Wednesday, 2 March 2011

Jangan Benci Aku, Mama!!!

Cerita ini saya ambil dari sebuah website yang saya tidak hafal nama website nya. Saya mengutip cerita ini karena saya kira cerita ini sangat menyentuh dan bermanfaat sekali bagi para pembaca sekalian. Inilah ceritanya:

Dua puluh tahun yang lalu saya melahirkan seorang anak laki-laki,
wajahnya lumayan tampan namun terlihat agak bodoh. Sam, suamiku,
memberinya nama Eric. Semakin lama semakin nampak jelas bahwa anak ini
memang agak terbelakang. Saya berniat memberikannya kepada orang lain
saja untuk dijadikan budak atau pelayan. Namun Sam mencegah niat buruk itu. Akhirnya terpaksa saya membesarkannya juga.                                   


Di tahun kedua setelah Eric dilahirkan saya pun
melahirkan kembali seorang anak perempuan yang cantik mungil. Saya
menamainya Angelica. Saya sangat menyayangi Angelica, demikian juga Sam. Seringkali kami
mengajaknya pergi ke taman hiburan dan membelikannya pakaian anak-anak
yang indah-indah. Namun tidak demikian halnya dengan Eric. Ia hanya memiliki beberapa
stel pakaian butut. Sam berniat membelikannya, namun saya selalu
melarangnya dengan dalih penghematan uang keluarga. Sam selalu
menuruti perkataan saya. 


Saat usia Angelica 2 tahun Sam meninggal dunia. Eric sudah berumur
4 tahun kala itu. Keluarga kami menjadi semakin miskin dengan hutang
yang semakin menumpuk. Akhirnya saya mengambil tindakan yang akan
membuat saya menyesal seumur hidup. Saya pergi meninggalkan kampung
kelahiran saya beserta Angelica. Eric yang sedang tertidur lelap saya
tinggalkan begitu saja.

Kemudian saya tinggal di sebuah gubuk setelah
rumah kami laku terjual untuk membayar hutang. Setahun, 2 tahun, 5
tahun, 10 tahun.. telah berlalu sejak kejadian itu.
Saya telah menikah kembali dengan Brad, seorang pria dewasa. Usia
Pernikahan kami telah menginjak tahun kelima. Berkat Brad, sifat-sifat
buruk saya yang semula pemarah, egois, dan tinggi hati, berubah
sedikit demi sedikit menjadi lebih sabar dan penyayang. Angelica telah
berumur 12 tahun dan kami menyekolahkan dia di asrama putri sekolah perawatan.
Tidak ada lagi yang ingat tentang Eric dan tidak ada lagi yang
mengingatnya.

Sampai suatu malam. Malam di mana saya bermimpi tentang seorang anak.
Wajahnya agak tampan namun tampak pucat sekali. Ia melihat ke arah
saya.
Sambil tersenyum ia berkata, "Tante, Tante kenal mama saya? Saya lindu
cekali pada Mommy!" Setelah berkata demikian ia mulai beranjak pergi, namun saya
menahannya, "Tunggu..., sepertinya saya mengenalmu. Siapa namamu anak
manis?"
"Nama saya Elic, Tante."
"Eric? Eric... Ya Tuhan! Kau benar-benar Eric?"
Saya langsung tersentak dan bangun. Rasa bersalah, sesal dan berbagai
perasaan aneh lainnya menerpa diri saya saat itu juga. Tiba-tiba
terlintas kembali kisah ironis yang terjadi dulu seperti sebuah film
yang diputar dikepala saya. Baru sekarang saya menyadari betapa
jahatnya perbuatan saya dulu.Rasanya seperti mau mati saja saat itu.
Ya, saya harus mati..., mati..., mati... Ketika tinggal seinchi jarak
pisau yang akan saya goreskan ke pergelangan tangan, tiba-tiba
bayangan Eric melintas kembali di pikiran saya. Ya Eric, Mommy akan
menjemputmu Eric...

Sore itu saya memarkir mobil biru saya di samping sebuah gubuk, dan
Brad dengan pandangan heran menatap saya dari samping. "Mary, apa yang
sebenarnya terjadi?"
"Oh, Brad, kau pasti akan membenciku setelah saya menceritakan hal
yang telah saya lakukan dulu." tTpi aku menceritakannya juga dengan
terisak-isak. ..
Ternyata Tuhan sungguh baik kepada saya. Ia telah memberikan suami
yang begitu baik dan penuh pengertian. Setelah tangis saya reda, saya
keluar dari mobil diikuti oleh Brad dari belakang. Mata saya menatap
lekat pada gubuk yang terbentang dua meter dari hadapan saya. Saya
mulai teringat betapa gubuk itu pernah saya tinggali beberapa bulan
lamanya dan Eric..
Eric...

Saya meninggalkan Eric di sana 10 tahun yang lalu. Dengan perasaan
sedih saya berlari menghampiri gubuk tersebut dan membuka pintu yang
terbuat dari bambu itu. Gelap sekali... Tidak terlihat sesuatu apa
pun! Perlahan mata saya mulai terbiasa dengan kegelapan dalam ruangan
kecil itu.
Namun saya tidak menemukan siapapun juga di dalamnya. Hanya ada
sepotong kain butut tergeletak di lantai tanah. Saya mengambil seraya
mengamatinya dengan seksama... Mata mulai berkaca-kaca, saya mengenali
potongan kain tersebut sebagai bekas baju butut yang dulu dikenakan
Eric sehari-harinya. ..
Beberapa saat kemudian, dengan perasaan yang sulit dilukiskan, saya
pun keluar dari ruangan itu... Air mata saya mengalir dengan deras.
Saat itu saya hanya diam saja. Sesaat kemudian saya dan Brad mulai
menaiki mobil untuk meninggalkan tempat tersebut. Namun, saya melihat
seseorang di belakang mobil kami. Saya sempat kaget sebab suasana saat
itu gelap sekali. Kemudian terlihatlah wajah orang itu yang demikian
kotor.
Ternyata ia seorang wanita tua. Kembali saya tersentak kaget manakala
ia tiba-tiba menegur saya dengan suaranya yang parau.
"Heii...! Siapa kamu?! Mau apa kau kemari?!"
Dengan memberanikan diri, saya pun bertanya, "Ibu, apa ibu kenal
dengan seorang anak bernama Eric yang dulu tinggal di sini?"
Ia menjawab, "Kalau kamu ibunya, kamu sungguh perempuan terkutuk!
Tahukah kamu, 10 tahun yang lalu sejak kamu meninggalkannya di sini,
Eric terus menunggu ibunya dan memanggil, 'Mommy..., mommy!' Karena
tidak tega, saya terkadang memberinya makan dan mengajaknya tinggal
Bersama saya. Walaupun saya orang miskin dan hanya bekerja sebagai
pemulung sampah, namun saya tidak akan meninggalkan anak saya seperti
itu! Tiga bulan yang lalu Eric meninggalkan secarik kertas ini. Ia
belajar menulis setiap hari selama bertahun-tahun hanya untuk menulis
ini untukmu..."
Saya pun membaca tulisan di kertas itu...
"Mommy, mengapa Mommy tidak pernah kembali lagi...? Mommy marah sama
Eric, ya? Mom, biarlah Eric yang pergi saja, tapi Mommy harus berjanji
kalau Mommy tidak akan marah lagi sama Eric. Bye, Mom..."
Saya menjerit histeris membaca surat itu. "Bu, tolong katakan...
katakan di mana ia sekarang? Saya berjanji akan meyayanginya sekarang!
Saya tidak akan meninggalkannya lagi, Bu! Tolong katakan..!!"
Brad memeluk tubuh saya yang bergetar keras.
"Nyonya, semua sudah terlambat. Sehari sebelum nyonya datang, Eric
telah meninggal dunia.. Ia meninggal di belakang gubuk ini. Tubuhnya
sangat kurus, ia sangat lemah. Hanya demi menunggumu ia rela bertahan
di belakang gubuk ini tanpa ia berani masuk ke dalamnya. Ia takut
apabila Mommy-nya datang, Mommy-nya akan pergi lagi bila melihatnya
ada di dalam sana ... Ia hanya berharap dapat melihat Mommy-nya dari
belakang gubuk ini... Meskipun hujan deras, dengan kondisinya yang
lemah ia terus bersikeras menunggu Nyonya di sana .
Saya kemudian pingsan dan tidak ingat apa-apa lagi.

(kisah nyata di irlandia utara)


Pesan : Yang dapat saya sampaikan dari cerita ini adalah bahwa kita hidup haruslah bersyukur. Bagaimana pun juga, kita hidup masih lebih baik apabila dibandingkan dengan orang yang ada di dalam cerita ini. 


Tidak semua orang memiliki orang tua yang baik, seperti yang terdapat dalam cerita tadi, anak tadi memiliki orang tua yang seperti itu, oleh karena itu kita yang masih memiliki orang tua yang lengkap dan baik alangkah baiknya jika kita bisa berbakti pada kedua oang tua kita.


Selain itu, tidak ada segala sesuatu yang terjadi kebetulan. Anak itu bisa seperti itu pastilah akrena dulu ia tidak berbakti pada orang tuanya. Oleh karena itu, berbaktila kepada orang tua sehingga kita tidak akan menerima buah karma yang seperti itu. 

Read more...

Sunday, 27 February 2011

Kemarahan bukanlah jalan segalanya

Di sebuah sudut kota, hiduplah seorang pemuda yang tinggal bersama ibunya. Ayahnya adalah seorang pembicara yang hebat. Anak ini hidup dalam kemewahan dan kesenangan. Setiap harinya, ia hanya pergi hang out bersama teman-temannya saja.

Sampai suatu ketika, Ayahnya akan melakukan talk show di kota tempat dia tinggal. Ayahnya menelpon anaknya ini untuk membawa mobilnya ke bengkel dan sampai di tempat talk show ayahyna pada pukul 5 sore. Ayahnya pun berpesan pada anaknya untuk jangan sampai telat. 

Anaknya ini pun bergegas membawa mobilnya ke bengkel. Saat menunggu mobilnya selesai, tepat di sebelah bengkel itu ada sebuah mall. Ia langsung ke mall itu dengan tujuan sambil menunggu mobilnya selesai. dia menuju ke bioskop. Saat di bioskop, ia melihat sebuha film yang sangat bagus dan ingin segera menontonnya. 

Dia pun menikmati film itu hingga selesai. Seusai menonton, alangkah terkejutnya ia melihat jam sudah menunjukan pukul 5 sore, ia bergegas ke bengkel dan menuju ke tempat ayahnya. Sesampainya di tempat ayahnya, jam sudah menunjukan pukul 6 sore dan ia melihat ayahnya sudah mencarinya sejak tadi. 

Lalu ayahnya menanyakan padanya kenapa ia bisa telat. Lalu sang pemuda menjawab kalau tadi di bengkel agak sedikit lama. Namun, sang pemuda tidak tahu kalau yahnya sudah menelpon ke bengkel sejak tadi. Lalu ayahnya bilang kepada anaknya, bagus yah ayah sepertinya tidak pernah mengajarimu untuk berbohong. Sepertinya selama ini yah salah mendidik kamu. Lalu sang anak pun sangat takut dimarahi oleh ayahnya. 

Lalu sang ayah bilang baiklah ayah akan pulang ke rumah dengan jalan kaki dan kau mengikuti ayah dari belakang dengan mobil sebagai hukuman karena ayah telah gagal mendidikmu. Selama 6 jam, sang anak melihat ay;ahnya yang bersusah payah berjalan kaki.

Lalu sang anak merenung, "Ayahku sangatlah hebat. Seandainya tadi ia memarahiku, mungkin aku akan dendam pada ayaku sendiri dan akan terus mengulangi kesalahan yang sama. Namun, hari ini ayah telah memberiku suatu pelajaran yang sangat berharga."

Pesan : Kemarahan bukanlah jalan untuk mnyelesaikan segala perkara. Dengan kemarahan, semua masalah tidak akan selesai. Namun dengan pikiran yang bijaksana lah maka segala masalah dapat terselesaikan dengan mudah. 

Saat kita dibenci atau dikasari oleh orang lain, janganlah membalasnya dengan kebencian dan kekasaran, namun balaslah dengan penuh cinta kasih dan kelembutan. 



Read more...

Kisah Seorang Ibu yang Buta

Suatu ketika, di suatu desa hiduplah seorang anak gadis yang sangat cantik. Gadis ini merupakan gadis tercantik di desanya. Dengan kecantikannya, dia bisa mendapatkan apa saja yang ia mau. Namun, ada sesuatu hal yang ia merasa kurang dari teman-temannya, yaitu ia memiliki seorang ibu yang buta dengan bekas jahitan yang berantakan di sekitar matanya membuat ibunya itu tampak sangat seram. 

Gadis itu merasa sangat malu memiliki ibu seperti itu. Bahkan gadis itu tidak mau mengakui ibunya itu sebagai ibunya. Ibunya merasa sangat sedih sekali. Namun, ibunya itu tahu akan kekurangannya dan dia pun juga tidak mau teralu dekat dengan anaknya saat berada di luar.

Sampai suatu ketika, ibunya berjualan di kantin sekolah tempat anaknya sekolah. Namun, gadis itu tetap tidak mau mengakui ibu itu sebagai ibunya. Gadis itu sampai bertekad kalau tidak mau mengakui dan bertemu dengan ibunya lagi. Benar saja, tekadnya itu terkabul. dia mendapat beasiswa untuk sekolah ke Singapura dan akan berpisah jauh dengan ibunya. 

gadis itu meneruskan pendidikannya di Singapura dan menikah dengan salah seorang lelaki di Singapura. Gadis itu sangatlah beruntung karena mendapatkan seorang suami yang sangat kaya. Hidup gadis itu kini sangatlah berkecukupan. Sampai akhirnya, gadis itu mendapat dua orang anak dari perkawinannya itu. 

Gadis itu hidup dengan sangat amat bahagia sampai suatu ketika ibunya mengunjunginya ke Singapura. Gadis itu sungguh sangat terkejut. Anak-anaknya pun langsung menjerit melihat wajah neneknya. Dengan spontan, gasi itu berkata kepada ibunya, "Wahai ibu tua, bisakah kau pergi jauh-jauh dari rumahku ini, Kau sudah menakuti kedua anakku." Dengan langkah tergopoh-gopoh berlinang air mata, sang ibu pergi dan kembali pulang ke kampungnya. 

Sampai suatu ketika, gadis itu pulang ke kampungnya dan mendengar berita bahwa ibunya telah meninggal dunia. Gadis itu pun menerima sepucuk surat dari ibunya yang bertuliskan, 

"Anakku maafkan ibu karena ibu telah membuatmu malu di hadapan teman-temanmu, maafkan ibu juga karena ibu tidak bisa membuatmu bangga, maafkan ibu telah menakut-nakuti cucuku sendiri saat aku berkunjung ke rumahmu di Singapura. Ibu sudah bersusah payah mengumpulkan uang selama 2 tahun demi pergi ke Singapura dan akhirnya ibu bisa pergi ke Singapura. Tapi kedatangan ibu sepertinya sia-sia. Dan ada satu hal yang kamu perlu tahu, dulu sewaktu kau masih kecil kau mengalami sebuah kecelakaan yang membuatmu buta dan ibu tidak tega melihatmu hidup dalam penderitaan maka ibu memberikan mataku untukmu agar kau bisa melihat indahnya dunia melalui mataku ini. 

Gadis itu dengan berlinang air mata merasa sangat menyesal, namun tak ada lagi yang bisa dilakukan. 

Pesan : Sayangilah ibu kita dan terimalah segala kekurangan yang dimiliki oleh ibu kita. Kita layaknya bersyukur memiliki seorang ibu yang telah rela bersusah payah melahirkan kita hingga bisa ada di dunia ini. Ingatlah dibalik 1000 kekurangan ibu kita, tersimpan sejuta kebajikan dan kasih sayang yang ia berikan kepada kita sejak kita lahir hingga sekarang


 

Read more...

Kisah Seorang Saudagar

Dahulu kala, di sebuah kota hiduplah seorang saudagar yang amat kaya. dia punya usaha yang sangat amat besar. Jabatannya pun tidak perlu diragukan lagi. Hidupnya selalu berkecukupan, bahkiksu an lebih dari cukup. Tetapi, saudagar ini memiliki sifat yang amat buruk. Saudagar ini amat sayang sekali dengan kedudukannya bahkan rela melakukan apa saja untuk mempertahankan kedudukannya.

Saudagar ini ternyata memiliki seorang guru spiritual. Seorang bhikkhu yang sangat amat hebat dengan 5x masa vassa. Bhikkhu itulah yang selalu memberinya nasihat, saran, dan petunjuk bila ia sedang terjatuh dan mengalami masalah. Gurunya ini sebenarnya tahu akan sifat buruk dari muridnya itu. Namun, sang guru tidak pernah berhasil mengubah sifat buruk saudagar tersebut. 

Sampai suatu ketika, datanglah pembeli yang amat sangat kaya dari negeri seberang. Pembeli ini mendatangi toko milik saudagar kaya tersebut. Pembeli ini bermaksud membeli 3 kantong gula yang 1 kantongnya harganya 8 ribu. Saudagar pun memberi tahu bahwa harganya 24 ribu. Namun, sang pembeli mengelak bahwa harganya 23 ribu. Lalu, sang saudagar bertanya pada pembelinya, "darimana harga 23 ribu itu?" lalu sang pembeli menjawab, "Iya. 8x3=23. Oleh karena itu harga seluruhnya 23 ribu. Lalu si saudagar berkata, "dasar kau bodoh. 8x3 itu 24. Kau tidak lulus sekolah yah?" Lalu sang pembeli menjawab, "Hei jangan asal bicara kau, aku ini lulusan luar negri. Kau yang tidak bisa menghitung. Baiklah begini saja, kita taruhan kalau aku salah maka kau boleh membunuhku, tapi kalau kau yang salah, kau harus melepaskan kedudukanmu."

Lalu dengan langkah percaya diri, sang saudagar pergi ke gurunya yang bijaksana. Lalu menanyakan akan soal itu ke gurunya. Sang saudagar pun bertanya, "Guru 8x3 sama dengan berapa?" Sang guru pun berpikir sejenak lalu menjawab, "8x3 itu sama dengan 23." Akhirnya dengan kecewa sang saudagar pergi dan melepas kedudukannya. 

Sesampainya di rumah, sang saudagar berpikir kalau aku salah telah berguru pada guru yang bodoh. Besok aku akan meninggalkannya. Keesokan harinya, dia pergi ke tempat gurunya dan pamit berkata bahwa ia ada urusan keluarga. Lalu sang guru menjawab, Baik, jangan lama-lama setelah itu cepat balik kemari dan jangan lupa kalau nanti hujan jangan berteduh di bawah pohon." Lalu sang murid berkata, baik guru aku pamit." Lalu sang guru menyampaikan pesan terakhirnya, "Oh iya, satu lagi jangan sampai kau membunuh makhluk apapun."

Lalu sang saudagar pun pergi. Di tengah perjalanan hujan deras turun. Ia hendak berteduh di bawah pohon. Namun, ia teringat akan pesan gurunya. Lalu ia berpikir, "Mungkin baiknya aku ikuti nasihatnya saja." Dan benar saja, setelah dia meninggalkan pohon itu, tiba-tiba petir menyambar pohon itu dan pohon itu tumbang. Dia amat bersyukur karena menuruti kata-kata gurunya.

Setelah itu, dia melanjutkan perjalanan. Sesampainya di rumah, ia langsung membuka kunci pintu dengan pedang yang ia bawa. Lalu ia pun bergegas menuju ke kamarnya dengan tujuan ingin menengok istrinya. Kamarnya sungguh gelap. Saat dia meraba ranjang, alangkah kagetnya dia. Dia meraba ada 3 orang yang tidur di ranjangnya. Dia pun emosi dan segera mengeluarkan pedangnya. Namun, ia teringat pesan gurunya untuk tidak membunuh. dia pun menghentikan niatnya. Ketika ia membuka selimut, alangkah kagetnya ia menemukan adik iparnya yang tidur disana. Ia bersyukur tidak membunuh adik iparnya sendiri.

Keesokan harinya, dengan segera ia kembali ke tempat gurunya. Dia bertanya pada gurunya, "guru, kenapa anda bisa tahu kalau saya akan tertimpah pohon jika saya berteduh di bawah pohon dan anda juga tahu kalau saya akan membunuh?" Lalu gurunya berkata, "saya tidak tahu. Saya hanya melihat udara sangat panas saat kau pergi, pasti setelah itu akan terjadi huja ndan biasanya saat hujan maka akan ada petir. Lalu soal membunuh, saya melihat saat kau pergi kau penuh dengan luapan emosi dan membawa sebuah pedang. oleh karena itu aku mnyarankanmu untuk tidak membunuh.

Pesan : Berpikirlah dahulu sebelum anda bertindak. Oleh karena itu, maka anda akan terbebas dari segala marabahaya. Selain itu, guru dalam cerita itu adalah bagaikan orang tua kita yang selalu menaasihati kita untuk melakukan yang terbaik meskipun belum tentu kita suka dengan cara mereka namun mereka memiliki maksud tertentu di balik semua pesannya. Oleh karena itu janganlah suka melawan dan membantah kata-kata orang tua. 



Read more...

Thursday, 27 January 2011

Dewi Keberuntungan dan Dewi Kesialan

Tatkala di sebuah desa. hiduplah seorang pemuda yang tinggal di sebuah gubuk di pinggir desa. Dia nmerasa kesepian. Selain itu, setiap harinya ia hanya hidup dengan mengumpulkan kayu bakar dan menjualnya ke pasar. Penghasilan dari ia mengumpulkan kayu bakar hanya cukup untuk membeli makan sehari dua kali. Oleh karena itu, ia mencoba menanam jagung dan menjualnya ke pasar.

Namun, penghasilan dari menjual jagung itu pun juga tidak terlalu besar. Hanya cukup untuk makan dan hidup sangat sederhana saja. Pemuda ini pun merasa cukup menderita karena hidupnya sungguh sulit.

Sampai suatu ketika, di suatu malam datanglah seorang wanita cantik dengan busana yang sangat indah. Pemuda itu pun terkesima melihat wanita cantik itu. Langsung pemuda itu bertanya kepada wanita cantik itu, "Hai wanita cantik, siapakah gerangan dirimu, mengapa di malam gelap ini kau sendirian dan ada di depan rumahku?" Lalu si wanita itu pun menjawab demikian, "Aku adalah dewi keberuntungan. Aku akan membawa keberuntungan dalam hidupmu. Apakah kau akan mengijinkanku masuk ke dalam?" Lalu tanpa berpikir panjang si pemuda itu pun mengijinkan wanita cantik itu masuk ke rumahnya.

Hari demi hari pun berlalu, hidup si pemuda pun mulai berubah. Dia menjadi orang yang paling beruntung. Hasil pengumpulan kayunya dijual dengan harga yang sangat tinggi sehingga pemuda tersebut bisa membeli apa saja yang ia mau. Hidupnya pun mulai berubah. Namun, lama kelamaan ia pun menjadi sombong. ia menjadi pelit dan tidak lagi ingin bekerja. Setiap harinya, ia hanya menikmati apa yang sudah ia dapat.

Sampai suatu malam, pemuda tersebut mendengar suara pintunya diketuk. Lalu pemuda itu pun bergegas keluar, dan alangkah terkejutnya pemuda tersebut melihat seorang nenek tua yang sudah sangat buruk rupa dan bajunya sangat kumal dan jelek. Lalu si pemuda tersebut pun bertanya, "Wahai nenek tua, ada apa gerangan nenek datang ke rumah saya malam-malam begini?" Lalu nenek tua tersebut pun menjawab, "Aku adalah dewi kesialan. Aku akan membawa: kesialan dalam hidupmu. Ijinkanlah aku masuk ke dalam rumahmu." tanpa berkata apa-apa lagi, pemuda tersebut langsung secepat mungkin menutup pintu. Namun, seketika wanita cantik yang ada di dalam rumah pemuda tersebut keluar dan berkata, "Wahai pemuda, Bukakanlah pintu untuk nenek tua tersebut. Dia adalah saudara kembarku. Kami adalah satu paket. Dimana ada aku pasti harus ada saudara kembarku. Kami tidak bisa terpisah. dan kamu pun harus menanggung akibat karena selama ini kamu hanya menikmati keberuntungan yang kau dapat dariku tanpa mau berusaha untuk mendapatkan keberuntungan itu lagi. dan inilah hukuman bagimu karena kamu sudah pelit dan malas."

Semenjak kedatangan nenek tua itu dirumah pemuda tersebut, hidup pemuda itu pun kembali seperti biasa lagi. Ia harus berjuang seperti biasa lagi dan tidak bisa menikmati kebahagiannya lagi.

Pesan : Keberuntungan dan kesialan adalah satu paket, sehingga kita tidak bisa hanya ingin keberuntungan terus. Yang namanya keberuntungan atau kesialan itu sendiri tidak berasal dari faktor-faktor apapun seperti orang, tempat atau apapun melainkan berasal dari pikiran kita sendiri. 


Keberuntungan dan kebahagiaan itu bisa ada dimana saja, tinggal bagaimana kita memaknai semua itu. 


Selain itu, saat kita sedang menderita, ingatlah semua itu akan berlalu dan akan berganti kebahagiaan sehingga janganlah terlalu terpuruk atas penderitaan itu. Sedangkan saat kita bahagia, ingatlah kembali semua itu akan berlalu dan akan berganti kembali dengan penderitaan. Oleh karena itu, janganlah malas dan hanya menikmati kebahagiaan itu saja, namun berusahalah untuk tetap dapat mempertahankan kebahagiaan itu karena semua di dunia itu tidak kekal dan dunia pasti berputar. 


Selain itu, janganlah merasa sombong dengan segala kelebihan kita karena Di Atas Langit Masih Ada Langit, Di atas kita masih ada orang yang jauh lebih hebat dari kita. Sedangkan jangan merasa malu atau minder dengan segala kekurangan kita karena Di Bawah Tanah Masih Ada Tanah, Di bawah kita masih banyak orang yang jauh lebih menderita dari kita. Oleh karena itu bersyukurlah dengan segala yang sudah kita punya.






Read more...

Tuesday, 18 January 2011

Pangeran yang Tidak Pernah Bahagia

Tatkala, di suatu negeri, terdapatlah sebuah kerajaan yang adil dan makmur. Kerajaan ini dipimpin oleh seorang raja yang bijaksana beserta dengan ratunya. Suatu ketika, anak dari sang raja akan lahir. Sang raja sangat senang begitu mendengar kabar bahwa calon pewaris tahtanya akan segera lahir. Sampai akhirnya, waktu kelahiran sang pangeran pun tiba. Sang raja dan ratu sangat senang dengan kelahiran sang pangeran tersebut.

Waktu pun terus berjalan hingga sang pangeran pun mulai tumbuh. Sang pangeran hidup dalam penuh kemewahan dan kemanjaan. Pangeran selalu dimanja dengan berbagai kesenangan, kebahagiaan, dan semua permintaannya selalu terpenuhi. Banyak orang yang sangat iri dan ingin sekali menjadi seperti pangeran. Namun, sang pangeran tersebut tidak pernah menemukan kebahagiaannya.

Sampai suatu ketika, sang pangeran memutuskan untuk dibuatkan sebuah istana untuk dia tinggal sendiri karena dia akan merasa lebih nyaman bila tinggal sendiri. Tidak lama setelah diajukkannya permintaan tersebut, istana tersebut langsung jadi dan pangeran tinggal sendiri di dalamnya. Awalnya, Sang pangeran merasa sangat senang sekali dan seakan menemukan surganya. Namun, seiring berjalannya waktu, sang pangeran merasa kesepian dan mulai menderita dan kembali kehilangan kebahagiaannya. Sang pangeran pun memutuskan untuk kembali ke istananya.

Saat kembali ke istananya, sang pangeran kembali bahagia karena dia rindu akan suasana ini. Namun, tak berapa lama dia kembali jenuh dengan keadaan ini dan ingin kembali ke istannya yang sepi. Sang pangeran pun kembali ke istananya yang sepi dan tak lama dia pun jenuh kembali. Begitulah seterusnya sampai setahun berlalu.

Sang pangeran memasuki masa remaja dan akan segera menentukan seorang wanita untuk dijadikan permaisuri. Pada awalnya, sang pangeran meerasa senang karena dia akan menemukan seorang permaisuri. sampai akhirnya, ia pun menemukan permaisurinya dan menikahinya. Pada awalnya, hubungan mereka terasa sangat menyenangkan. Namun, Setelah berjalan beberapa tahun, mereka tampak jenuh dan hubungan mereka mulai retak. sang pangeran pun kembali kehilangan kebahgiannya.

Waktu pun kembali berjalan, dan sang pangeran yang hidup dalam kemewahan dan kemanjaan, kini harus meenggantikan posisi ayahnya sebagai raja. Pada awalnya, ia merasa sangat senang karena dia akan memimpin sebuah kerajaan. Namun, setelah beberapa memimpin, dia merasa pusing dengan urusan negara dan semua menjadi terbengkalai. Dia menjadi raja yang sangat egois karena selama ini ia selalu hidup dalam kemanjaan.

dan kini, ia telah mendapatkan seorang putra. Awalnya, dia sangat senang sekali melihat buah hatinya yang lucu. Namun, semakin lama melihat putranya yasng semakin nakal, dia menjadi sangat pusing dan kembali menderita.

Sampai akhirnya, dia menjadi tua dan akan turun tahta. Dia bahagia karena tidak perlu lagi mengurus negara yang ribet. namun, kebahagiaan itu kembali tak berlangsung lama karena dia menjadi sakit-sakitan. Di akhir hidupnya, ia melihat seorang anak pengemis yang cacat, namun di wajah mereka tampak senyum yang berbibar-binar.

Sesaat, sang pangeran tersadar bahwa selama ini ia tidak pernah bersyukur dengan apa yang telah dia punya bila dibandingkan pengemis itu. Namun setelah itu sang pangeran langsung mnghembusakn nafas terakhirnya.

Pesan : Syukurilah apa yang sudah kau punyai sekarang, karena masih banyak orang yang jauh lebih sulit dibaandingkan anda. Dan jangan sombong dengan apa yang kita punya karena itu hanya sementara dan masih banyak orang yang jauh lebih hebat dibanding kita. Oleh karena itu, hiduplah dengan seimbang. 


Selain itu, kebahagiaan itu tidak berasal dari tempat dimana kita tinggal, tempat dimana kita berada, hari, tanggal, ataupun yang lainnya. Melainkan kebahagiaan itu berasal dari dalam diri kita sendiri yaitu dengan cara mensyukuri segala sesuatunya. Ingat lah "Dimana pun , kapan pun kamu berada, dan bagaimanapun situasinya, di situ lah kita bahagia. 




Read more...

Saturday, 15 January 2011

Maafkan Aku Ayah

Cerita ini adalah kisah nyata dari seorang mahasiswa di Tionghua yang bernama Hsiau-Fei. Hsiau fei adalah seorang mahasiswa yang sebentar lagi akan diwisuda. Dia sangat mendambakan akan hadiah wisuda dari ayahnya, seorang pengusaha kaya yang sangat menyayanginya sebagai anak satu-satunya. Hsiau-fei selama berhari-hari telah membayangkan akan mengendarai mobil BMW idamannya sambil bersenang-senang dengan temannya.

Saat yang dinantikan pun tiba, yang mana setelah diwisuda, dengan langkah penuh keyakinan Hsiau-Fei melangkah menemui ayahnya yang tersenyum sambil berlinang air mata menyampaikan betapa dia kagum akan anak satu-satunya dan sungguh dia mencintainya. Ayahnya kemudian mengeluarkan sebuah kado yang dibungkus rapi, dan sungguh hal ini membuat Hsiau-Fei terpukul karena bukanlah kunci mobil BMW melainkan sebuah kitab Buddha Vacana yang terjilid rai bertuliskan emas nama Hsiau-Fei disampul depannya. Hancur sekali hati Hsiau-Fei. Dia membanting kitab tersebut sambil berteriak, "Apakah ini cara ayah mencintai saya? Padahal dengan uang ayah yang banyak, tidaklah sulkit untuk membelikan hadiah yang memang telah ayah ketahui sudah lama saya idamkan." Kemudian, Hsiau-Fei tanpa meilhat reaksi ayahnya lagi, berlari kecang meninggalkannya dan bersumpah tidak akan menemuinya lagi.

Hari, bulan,dan tahun pun berganti. Hsiau-Fei yang telah pindah di kota lain akhirnya berhasil menjadi seorang pengusaha sukses karena bermodalkan otaknya yang cemerlang. Selain memiliki mobil dan rumah yang mewah, dia juga telah berkeluarga dan mmiliki 3 anak. Sementara ayahnya sudah pensiun dan semakin tua serta tinggal sendirian. Ayahnya selalu menanti kedatangan Hsiau-Fei sejak hari wisuda tersebut, dengan satu harapan hanya untuk menyampaikan betapa cintanya dia kepada Hsiau-Fei. Hsiau-Fei pun juga terkadang rindu kepada ayahnya. Namun, apabila ia mengingat kejadian hari wisuda tesebut, dia pun menjadi marah kembali dan merasa sakit hati atas hadiah kitab dari ayahnya.

Sampai suatu hari, datanglah telegram dari tetangga ayahnya yang memberitahukan bahwa ayahnya telah meninggal dunia, dan sebelum meninggal dia telah meninggalkan surat wasiat kepada Hsiau-Fei dimana semua hartanya akan diwariskan kepadanya. Akhirnya Hsiau-Fei pulang untuk mengurus harta peninggalan ayahnya.

Memasuki halaman rumahnya, timbullah rasa penyesalan yang menyebabkannya sedih sekali memikirkan sikap ketidaksabarannya, khususnya saat wisuda. Hsiau-Fei merasa sangat menyesal telah menolak ayahnya. Dengan langkah berat dia memasuki rumah dan satu per satu perabot diperhatikannya yang mengingatkannya akan akan semua kenangan indah tinggal bersama ayahnya. Dengan kunci wasiat yang diterimanya, dia membuka brankas besi ayahnya dan menemukan kitab Buddha Vacana dengan ukiran emas namanya, hadiah dari wisuda.

Dia mulai membuka halaman kitab tersebut dan menemukan tulisan ayahnya di halaman depan. "dengan segala kejahatan yang telah kamu lakukan selama hidupmu, tetapi kamu tahu memberikan yang terbaik untuk anakmu, sungguh para buddha dan bodhisatva akan terguncang dengan perbuatanmu." Tanpa sengaja, tiba-tiba dari sampul kitab tersebut jatuh sebuah kunci mobil BMW dan kwitansi pembelian mobil yang tanggalnya persis satu bulan sebelum tanggal wisuda Hsiau-Fei.

Hsiau-Fei terpaku tanpa bisa bersuara. dengan sisa tenaga yang masih ada, Hsiau-Fei segera berlari ke garasi dan menemukan sebuah mobil BMW yang telah berlapiskan debu tetapi masih jelas seklai mobil itu belum pernah disentuh sama sekali karena jok mobilnya masih terbungkus plastik. Di depan kemudi terpampang foto ayahnya yang tersenyum bangga. Tiba-tiba lemaslah seluruh tubuhnya, dan air matanya tanpa terasa terus mengalir tanpa dapat ditahannya. Suatu penyesalan mendalam atas ketidaksabarannya sendiri. Suatu penyesalan tak mungkin berakhir.

Pesan : Janganlah terburu-buru dalam mengambil suatu keputusan, karena kita tidak dapat memutar waktu. Oleh karena itu, pikirkan matang-matang suatu keputusan yang akan kita ambil agar kelak kita tidak menyesal seumur hidup.


Selain itu, bersyukurlah atas segala sesuatu karena setiap hal atau apapun pasti ada hikmah yang dapat kita syukuri walapun itu buruk sekalipun. Dan selalulah berpuas diri dan bersyukur dengan apapun yang kita punya. karena masih banyak orang yang jauh lebih sulit daripada kita. 


Satu lagi, berbaktilah pada orang tua sebelum mereka meninggalkan kita karena kita tidak pernah tahu kapan orang tua kita akan meninggal dan sebelum mereka meninggal, alangkah baiknya jika kita dapat membahagiakan mereka. 




Read more...