Tuesday, 24 January 2012

Ayah Pilih Kasih

Sejak kecil hingga dewasa, aku selalu mendapat pakaian bekas kakak laki-lakiku. Bagaimanapun, seorang gadis yang mengenakan pakaian kakaknya yang longgar dan usang, rasanya sangat janggal. Saat pulang sekolah, aku selalu berlengah-lengah jalan di belakang, takut kepergok teman-temanku yang akan mengejek dan menertawakanku. 

Kakakku seorang laki-laki cacat, lebih tua lima tahun dariku. Meski aku anak perempuan, aku sangat tekun belajar, setiap ujian aku selalu mendapat peringkat pertama. 

Seharusnya, akulah yang pantas disayang ayah. Karena hal ini, aku selalu tidak terima akan sikap ayah terhadapku. Saat tahun baru, lagi-lagi ayah membelikan pakaian baru untuk kakak, sedangkan aku tidak satu pun. Aku tak tahan lagi, melabrak ayah sambil berteriak, "Ayah pilih kasih! Aku benar-benar tidak mengerti. Ia hanya laki-laki cacat, apa bagusnya meski berpakaian bagus sekalipun?" Mendengar itu, bukan main marahnya ayah dan ia menamparku. 

Sejak itu, aku makin benci sama keluarga ini. Aku belajar dengan tekun dan berencana hendak meninggalkan keluarga ini setelah lulus ke perguruan tinggi. Abangku hanya sekolah beberapa tahun, setelah itu berhenti dan tinggal di rumah. 

Setelah lulus sma, aku diterima di sebuah lembaga ilmu kedokteran. Dua tahun kemudian,  aku menjalin asmara dengan seorang pria. Kami berunding untuk membeli rumah di daerah kota. Keluarga pacarku tinggal di desa, keadaan ekonomi mereka juga biasa-biasa saja. Kami telah menyimpan sebagian tabungan, tapi untuk kredit rumah masih kurang. Saat aku ingin meminjam uang kepada ayah, ayah malah berkata "uang tabungan keluarga dibutuhkan kakakmu untuk memperistri nanti." Perkataan ayah itu benar-benar membuatku kecewa.

Akhirnya aku pun menikah disusul dengan kakakku yang menikah dengan salah satu tetangga kami. Ayah mengeluarkan banyak uang untuk pernikahan kakakku dan dengan diselenggarakan dengan cukup mewah. 

Setelah menikah, aku jarang pulang ke rumah. Sampai suatu ketika, ayahku berulang tahun yang ke-60, ibu menelponku, tapi aku terus menolak dengan beralasan sibuk dan lainnya. Namun, karena suamiku memaksaku, akhirnya aku pun mengiyakan untuk datang ke acara itu. 

Sesampainya disana, aku memberi sedikit uang pada ayah. Namun, ayah berkata, "Kalian juga bukan keluarga berada. Simpan saja uang ini untuk kalian." Aku pun berkata dengan nada datar, "Iya, aku memang tidak memiliki apa-apa dan terus berjuang untuk memenuhi kebutuhanku sendiri. Tidak seperti kakak." Ayah pun menyadari maksud perkataanku dan tidak melanjutkan pembicaraan. 

Malamnya, aku tidur bersama ibu. Pada malam itu ibu mengatakan, "gadis manis, lain kali tidak boleh berkata begitu sama ayah." Aku pun menjawab, "Siapa suruh ayah pilih kasih!" Ibu pun berkata kembali, "Sayang tahukah kamu kenapa kaki kakakmu cacat?" Aku menggeleng. "Saat kamu masih anak-anak, suatu ketika ayah membawamu dan kakakmu menumpangi traktor di pekan raya. Namun, traktor itu terbalik di tengah jalan, dengan nalurinya ayah memelukmu dan meloncat keluar. Namun, ketika ayah kembali mencari kakakmu, kakinya sudah tertimpa roda traktor. Kakakmu pun langsung dibawa ke rumah sakit. Nyawanya memang selamat, tapi meninggalkan cacat seumur hidup. Ia merasa sangat bersalah karena tidak melindungi kalian dengan baik sekaligus. Ayah tidak mau menceritakan ini padamu, agar kelak kau tidak memikul beban yang berat" 

Air mata pun berlinang membasahi wajahku.

Pesan : Dalam kehidupan kita, banyak sekali hal yang terkadnag kita tidak ketahui. Namun, kita tidak pernah mencoba mencari tahu sumber permasalahan suatu hal dan kita lebih sering langsung menanggapi suatu hal tanpa tahu sebab na terlebih dahulu.

Sesal di kemudian tidaklah berguna. Itulah pepatah yang seringkali kita dengar. Oleh karena itu, pikirkan baik-baik apa yang akan kita lakukan. Apakah akan berguna kelak? Apakah akan menyakiti orang lain atau tidak? Karena menyesal pun tidak bisa merubah segala sesuatu yang telah terjadi 



Read more...

Monday, 23 January 2012

Kau dan Aku

Ingatanku sejak dulu memang kurang baik. Dan kini ingatanku semakin kabur karena perjalanan waktu. Tapi kukira ada hal-hal yang masih tersimpan dalam begitu baik di kepalaku. Itu masa-masa paling bahagia dalam hidupku. Kita masih sangat muda waktu itu.

Usiamu masih sangat muda. Sekitar tiga tahun. Langkah kakimu masih goyah. Ketika berjalan selalu berjinjit-jinjit kecil. Kau suka berlari dan ayah ibumu ajan mengejarmu dengan panik. Kau juga masih sering merangkak. Kau akan mencolekku dan membangunkanku dari tidur. Aku paling malas kalau dibangunkan. Tapi, karena kau terus menggelitikku, aku pun bangun dan dengan manja naik ke pangkuanmu. Aku ingat kau seorang yang takut geli setiap kali aku memanjat pahamu. Aku sering melihatmu tertawa kegelian dengan air liur menetes dari bibir mungilmu yang merah berkilau.

Ketika kau mulai bersekolah, aku dengan setia menunggumu. Sungguh bosan rasanya di rumah tanpa kau yang selalu bermain bersamaku. Aku sering tertidur ketika menunggumu. Tapi kemudian, aku hafal dengan jadwalmu. Aku bisa merasakan kehadiranmu 5 menit sebelum kedatanganmu. Dan aku akan segera menerjang ke arahmu ketika kaki pertamamu menginjak tanah. Terkadang aku melompat ke dalam mobil sebelum kau sempat turun. 

Kau punya seperangkat alat masak-masakan. Terkadang aku menemanimu bermain. Sampai suatu hari, aku merusak perangkat masak-masakanmu dan kau menangis tanpa henti. Aku merasa sangat bersalah, tapi tidak bisa berbuat apa-apa. Kau baru tersenyum lagi setelah ibumu membelikan satu perangkat baru. Tapi sejak saat itu, kau enggan mengajakku bermain lagi. 

Kita juga sering berjalan-jalan bersama di sekitar kompleks. Terkadang lomba lari sampai kejar-kejaran. Masa-masa itu sungguh menyenangkan. Aku masih ingat saat suatu ketika,  beberapa anak nakal menganggumu. Aku sangat marah. Aku menggemeretakkan gigiku dan sorot mataku berubah garang. Aku sempat mengejar mereka hingga beberapa meter sebelum aku memanggilku. Aku sangat marah bila ada yang mencoba menyakitimu. 

Terkadang kau kesepian karena ayah ibumu pergi. Kau anak satu-satunya, dan hanya ada aku dan pembantu yang menemanimu. 

Masa-masa saat kau masih kecil dipenuhi dengan keriangan kita berdua. Tapi waktu tersu berjalan hinga tidak terasa kau mulai tumbuh remaja dan waktu kebersamaan ktia semakin berkurang. Terkadang kau habiskan waktu seharian mengurung diri di dalam kamar menonton televisi. Kau juga sering keluyuran dengan teman-temanmu. Jika kau akhirnya membawaku jalan-jalan, itu kau lakukan dengan berat hati karena ibumu memaksa. 

Aku sadar aku hanyalah menjadi beban bagimu. Kau tidak lagi suka menghabiskan waktu bersamaku. Aku juga semakin letih dan lemah. Aku sudah tua. Lebih baik bila aku sendirian saja. Aku sudah cukup bahagia bila melihatmu baik-baik saja. 

Aku hanya seekor anjing dan kau manusia. Tapi kurasa, persahabatan kita dulunya murni karena saling suka. Jika kau bisa melupakanm masa kecilmu yang ceria ketika bermain bersamaku, maka jujur saja, aku tak bisa. Duniaku terasa berharga karena pernah begitu bahagia oleh keberadaanku. 

Aku menyaksikanmu tumbuh. Tapi aku sangsi kau akan menyadari kematianku. Aku seekor anjing dan kau manusia. Kita tidaklah sama. Dunia kita berbeda. Ternyata hal itu menjadi jurang pemisah diantara kita. 

Pesan : Hargailah orang-orang yang pernah berusaha membuatmu bahagia. Sehina dan sejelek apapun seseorang itu, dia pernah berusaha untuk membantumu dan membuat dirimu lebih bahagia. Jangan pernah lupakan jasa-jasa orang tersebut dan jangan pernah malu untuk mengakuinya. 




Read more...

Pangeran Bahagia

Suatu ketika, seekor burung walet akan bermigrasi ke mesir karena sebentar lagi, musin dingin akan tiba. Di tengah perjalanan, karena hari sudah malam, ia pun memutuskan untuk beristirahat di bawah sebuah patung emas. Burung itu pun merasa nyaman, karena bisa beristirahat di rumah yang terbuat dari emas. 

Namun, di saat burung itu sedang tertidur ia merasakan ada tetesan-tetesan air jatuh di kepalanya. Burung itu pun terbangun dan mencari sumber darimana air itu jatuh. Namun, burung itu tidak menemukan adanya tanda-tanda hujan. Betapa kagetnya burung itu melihat mata dari patung emas itu mengeluarkan air mata. 

Burung itu pun bertanya kepada patung emas tersebut, "Kenapa kamu menangis patung emas?" Patung emas itu pun menjawab, "Aku adalah pangeran Bahagia. Semasa aku hidup, aku tinggal di dalam istana dan tidak pernah merasakan apa itu kesedihan. Yang aku tahu, hidupku hanyalah bahagia dan bersenang-senang di dalam istana. Sampai saat aku meninggal, aku diletakkan di pusat kota ini. Disini, aku bisa melihat bagaimana kehidupan rakyatku selama ini. Meskipun hatiku terbuat dari baja, namun aku tetap dapat merasakan kesedihan." 

"Lalu apa yang bisa aku perbuat untuk membantumu pangeran Bahagia?" tanya si burung. Pangeran Bahagia menjawab, "di ujung jalan ini, terdapat seorang penjahit yang sangat miskin. Anaknya sakit keras, namun ia tidak bisa membelikan obat. Ia hanya bisa memberinya air sungai saja. Cabutlah berlian dari mataku ini dan berikan kepadanya. Aku tidak bisa bergerak, kakiku tertancap disini." Burung walet itu pun menjalankan tugasnya dengan baik. 

Burung walet itu pun kembali dan berkata kepada pangeran Bahagia, "aku sudah menjalankan tugasku. Aku akan melanjutkan perjalanan ku ke mesir. "Tunggu burung!" pinta pangeran Bahagia. "aku ingin meminta tolong sekali lagi. Di ujung timur sana ada seorang gadis kecil penjual korek api. Semua koreknya jatuh ke sungai dan belum terjual sama sekali. Jika ia pulang seperti ini, ayahnya akan mengusirnya dari rumah. Cabutlah berlian terakhir di mataku dan berikan ini kepadanya." Burung itu pun menjawab, "Bila kau berikan lagi matamu yang satu lagi, maka kau akan buta." Pangeran itu pun berkata lagi, " Tidak apa-apa burung kecil. Cepat berikan mataku kepadanya."  Burung itu pun kembali menjalankan tugasnya.

Burung itu pun kembali dan berkata, "pangeran, sekarang kau sudah buta. Aku akan menemanimu disini." Pangeran itu pun menjawab, "tidak burung. Kau harus segera ke Mesir bukan? Kau tidak perlu menemaniku disini. Biarlah aku sendirian." Burung itu pun berkata lagi, "tidak. Aku tidak akan meninggalkanmu sendiri." Pangeran itu pun berkata lagi, "baiklah kalau begitu. Tolong aku lihat bagaimana keadaan kota sekarang dan laporkan padaku."

Burung pun kembali dan melaporkan kepada pangeran bahwa keadaan kota sekarang sangatlah miskin. Banyak pencurian dimana-mana, banyak rakyat kelaparan dan lainnya. Pangeran pun berkata kepada burung, "ambillah lapisan-lapisan emas dari tubuhku ini dan bagikan kepada rakyat-rakyat yang miskin." Burung itu pun kembali menjalankan tugasnya. 

Suatu ketika, disaat musim dingin telah tiba burung itu pun berkata kepada pangeran, "Pangeran, aku rasa sebentar lagi aku akan meninggalkanmu untuk selamanya. Aku sudah sangat lemah." Setelah mengucapkan kata-kata itu, burung itu pun terjatuh dan tidur untuk selama-lamanya tepat di antara kedua kaki pangeran Bahagia. 

Keesokan harinya, warga-warga pun berdiri memandangi patung pangeran bahagia. "Lihat patung ini, seluruh berliannya telah hilang. Warnanya pun kini tak lagi emas. Dan ada bangkai burugn pula di antara kedua kakinya. Lebih baik kita lebur saja patung ini." Mereka pun meleburkan patung pangeran Bahagia. Namun, ada satu bagian yang tidak bisa hancur sama sekali yaitu hatinya. 

Pesan : Tidak ada yang kekal di dunia ini. Raga suatu hari akan hancur seiring dengan waktu. Lapuk dan terendap di bawah tanah. Namun, Jasa kebaikan seseorang tidak akan pernah hancur dan akan selalu teringat di dalam ingatan setiap orang. 




Read more...

Friday, 16 September 2011

Kisah 3 permintaan

Cerita tentang seorang bos dan dua orang karyawannya. Suatu ketika, si bos mengajak sekretarisnya dan juga office boy nya untuk makan siang bersama karena kedua orang karyawan itu merupakan karyawan kesayangan si bos.

Singkat cerita, di tengah perjalanan menuju restoran, mereka menemukan sebuah toko barang antik. Mereka pun masuk ke toko itu karena penasaran. Mereka menemukan sebuah lampu yang bentuknya unik. Si office boy yang begitu tertarik dengan lampu itu menggosok lampu itu dengan penasaran. Tiba-tiba dari lampu itu muncullah asap yang mengepul dan keluarlah sesosok makhluk raksasa keluar dari lampu itu.

"Ha ha ha. Aku adalah dewa yang terperangkap di lampu ini selama beratus-ratus tahun dan aku menunggu seseorang yang akan membebaskanku. Sebagai rasa terima kasihku, aku akan mengabul masing-masing 1 permintaan kalian bertiga." Ucap sang dewa.

 Si sekretaris dan office boy pun berebutan untuk meminta permintaan itu. Namun akhirnya si sekretaris mengalah dan membiarkan si office boy mengucapkan permintaanya terlebih dulu. Si office boy pun berkata kepada sang dewa, "Wahai dewa, aku dari lahir sudah hidup miskin sampai hari ini. Aku tidak pernah merasakan hidup mewah. Hanya satu pintaku dewa, aku ingin hidup mewah di Amerika di rumah yang besar dan dipenuhi oleh wanita-wanita cantik. Dalam sekejap, si office boy pun menghilang dan telah hidup seperti apa yang dia minta tadi.

Lalu, si sekretaris pun mengucapkan permintaanya. Dia berkata, Wahai dewa, sebenarnya hidupku sih sudah enak-enak saja. Namun, aku bosan hidup di Indonesia. Jadi, aku ingin jadi sekretaris di gedung putih Amerika." Dalam sekejap pun si sekretaris sudah berpindah menjadi sekretaris Obama di Amerika.

Terakhir tinggal si bos yang belum mengucapkan permintaanya. Sang dewa pun bertanya, "Wahai bos hidupmu sudah sangat enak. Lalu, apa yang ingin kau minta padaku?" Si bos pun berkata, "Wahai dewa, mereka berdua adalah karyawan kesayanganku. Jadi pastikan mereka kembali ke kantor tepat jam 1 siang."

 Pesan : Tidak mau mengalah adalah sebuah penyebab masalah. Andaikan tadi kedua orang karyawannya mau mengalah dan membiarkan si bos mengucapkan permintaanya terlebih dahulu, mungkin saja mereka bisa mengatur supaya kebahagiannya itu bisa terus berlanjut.

Sama seperti kita yang selalu ingin terburu-buru dan tidak mau mengalah saat kita diberikan sebuah kesempatan yang sangat mengasyikan. Biasanya kita lebih mementingkan diri sendiri terlebih dulu daripada orang lain. Itulah yang harus kita ubah.   


Read more...

Friday, 19 August 2011

Persyaratan untuk Cerai

Kisah tentang dua orang pasangan yang baru saja menikah. Mereka sudah menjalin hubungan sejak lama dan baru saja menikah. Hari pertama pernikahan, mereka merasa sangat bahagia. Setiap pagi si suami selalu menggandeng tangan istrinya keluar dari kamar dan selalu mengatakan kepada istrinya "Aku Sayang Padamu."
Kebiasaan itu terus terjadi setiap hari.

Tahun demi tahun berlalu, kebiasaan baik itu pun lama kelamaan mulai dilupakan dan hubungan pernikahan mereka pun semakin lama semakin menjadi kurang harmonis. Sampai akhirnya, mereka pun memiliki seorang anak laki-laki.

Sang suami yang semakin lama semakin tidak punya waktu untuk istri dan anaknya hanya sibuk dengan urusan pekerjaannya saja. Si istri pun semakin lama merasa jenuh. Ternyata, si suami telah memiliki pacar baru yang jauh lebih muda dibanding istrinya di luar sana.

Sampai akhirnya, suatu sore sepulangnya dari kantor si suami memberikan selembar kertas pada istrinya. Alangkah kagetnya sang istri melihat isi surat itu adalah surat perceraian. Di kertas itu, si suami menuliskan bahwa sang istri boleh mengambil 50% dari kekayaan mereka, mengambil salah satu rumah suaminya dan boleh memiliki mobil suaminya. Spontan si istri langsung merobek surat itu dan menuju ke kamar.

Malam itu pun, mereka pun tidur saling diam-diaman tanpa percakapan sedikitpun walaupun tidur seranjang. Keesokan paginya, si istri pun memberikan selembar kertas panjang dan mengatakan "Aku tidak perlu harta apapun darimu untuk bercerai. Aku hanya ingin kau melaksanakan syarat yang kutulis saja."

Si suami pun membaca dan kaget. Surat itu berisikan, "Aku rela diceraikan olehmu 1 bulan lagi dan selama sebulan itu, setiap pagi kamu harus menggandeng tanganku keluar dari kamar seperti waktu pertama kali kita menikah dan kamu harus mengatakan padaku, "Aku Sayang Padamu" seperti hari pertama kita menikah.

Si suami pun menyetujui dan segera menuju ke rumah pacar barunya dan memberi tahu semuanya. Si pacar pun menyetujui untuk menceraikannya sebulan lagi. Keesokan paginya, si suami segera menggandeng tangan istrinya keluar kamar sesuai syarat. Anak mereka pun melihat dan mengatakan, "Asikk!! Papa gandeng mama!" suatu kejadian yang jarang sekali dilihat oleh anaknya. Si suami pun merasa canggung begitu pula dengan si istri. Namun, si istri berkata "tetap lanjutkan biarkan anak kita melihat kita seperti ini."

Keesokan harinya, si suami pun melakukan hal yang sama. Perasaan canggung diantara keduanya pun mulai sedikti menghilang. Begitu pula seterusnya. Suatu ketika, si istri meminta sang suami untuk memakaikan gaun kepada istrinya. Si istri berkata "Pa, gaunku sudah kebesaran yah." Si suami pun sadar bahwa tubuh istrinya sudah semakin kurus dari yang dulu. Lalu, ia memperhatikan wajah istrinya dan tampak banyak sekali keriput di wajah istrinya. Dan si suami menyadari bahwa istrinya sudah bertambah tua.

Semakin lama mereka melakukan kebiasaan itu, si suami pun sadar bahwa sebenarnya dia masih sangat menyayangi istrinya itu. Hanya saja, mereka sudah meninggalakan banyak kebiasaan positif sehingga perasaan cinta itu pun hilang.

Sampai hari ke 30, si suami menuju ke rumah pacar barunya dan berkata "Aku tidak jadi cerai. Aku masih sangat menyayangi istriku dan aku tidak akan pernah berpisah dengannya." Si pacar baru itu pun marah dan menamoar si suami. Namun, si suami langsung pergi dan segera menuju ke toko bunga. Dia membeli bunga yang paling mahal yang bertuliskan "I Love You" dan segera pulang.

Namun, alangkah kagetnya ia menemukan tubuh istrinya sudah terkapar lemah tak bernyawa di ranjang. Rupanya, istrinya sudah divonis kanker stadium akhir oleh dokter dan hidupnya hanya tinggal sebulan. Si suami merasa sangat menyesal.

Pesan : Janganlah menyia-nyiakan apa yang kamu punya sekarang. Karena sesuatu akan terasa sangat berharga saat anda sudah kehilangannya. Selain itu, jangan pernah tinggalkan kebiasaan baik yang sering kita lakuakn karena sedikit banyak itu meembawa manfaat untuk kita. 


Read more...

Kisah 3 ekor ikan

Alkisah di suatu danau hiduplah 3 ekor ikan. Ikan yang pertama bernama Karma. Ikan yang kedua bernama Semangat. Ikan yang ketiga bernama kebijaksanaan. Ketiga ekor ikan ini hidup damai dan berdampingan di danau tersebut.

Sampai suatu ketika, seorang nelayan datang untuk menangkap ketiga ekor ikan itu dengan sebuah jaring besar. Karena mereka tidak sadar, tertangkaplah mereka ke dalam jaring besar itu. Mereka bertiga pun dalam bahaya.

Namun, ikan yang bernama semangat itu pun tidak putus asa begitu saja. Ia terus berusaha sampai akhirnya jaring si nelayan itu pun robek. Ikan kedua yang bernama bijaksana, begitu melihat ada lubang di jaring itu langsung secepat mungkin keluar. Kedua ikan itu pun selamat dari tangkapan si nelayan.

Berbeda dengan si ikan ketiga yang bernama Karma. Dia berpikir bahwa "Ini belum saatnya bagiku untuk mati, maka aku pasti tidak akan mati sekarang." dan ia tidak melakukan sedikit usaha pun agar bisa terbebaas dari jaring itu. Akhirnya, si karma pun tertangkap oleh nelayan.

Pesan : Jangan pernah menyerah pada keadaan, apalagi pasrah terhadap karma. Karena karma itu tidak menentukan segalanya. Karma memang menentukan segalanya. Namun, tidak semua diatur oleh karma. Karma hanyalah salah satu faktornya. Yang terpenting adalah bagaimana usaha kita untuk mencapai sesuatu dan bagaimana kita menggunakan pikiran dan kecerdasan kita untuk menyelesaikannya. 

 


Read more...

Thursday, 5 May 2011

Ego

Cerita kali ini adalah ceritakan yang bertemakan tentang egoisme atau pemikiran tentang hanya ingin membahagiakan "Aku". Disini saya akan berbagi sebuah kisah tentang dimana kita harus bisa sesekali memikirkan tentang orang lain.

Seorang gembala sapi yang mungkin hampir dikatakan tidak pernah menyentuh makanan mewah, suatu hari diundang ke kerajaan untuk makan bersama. Sang gembala pun kaget bukan main. Awalnya ia mengira itu hanyalah mimpi. Namun, dia bertanya pada tetangga-tentangganya dan rupanya bukan hanya dia saja yang diundang. Tetangganya pun juga diundang semua. 

Sesampainya di istana, sang gembala bersama para warga lainnya melihat sebuah meja besar penuh dengan makanan-makanan yang mewah dan enak. Lalu, semua warga itupun duduk di kursi yang telah disediakan. Namun, seketika mereka terkejut saat kedua tangan mereka diikat siku mereka diborgol sehingga mereka tidak bisa memasukkan makanan sedikitpun ke mulut mereka.

Sampai akhirnya, salah seorang dari  mereka berkata pada raja, "Buat apa raja mengundang kami kalau anda hanya menjebak kami seperti ini? Dasar kau! Rupanya anda hanya menjebak kami saja." 

Lalu sang raja pun menjawab, "Siapa yang menjebak kalian? Saya hanya ingin mengajarkan kalian sebuah hal yang berharga. Coba anda semua luruskan tangan anda. Suapi satu orang yang ada di depan anda. Maka anda semua pasti dapat makan dengan enak. Alangkah bahagianya jika kita dapat hidup tidak hanya memikirkan kebahagiaan diri sendiri saja, namun bisa membuat semua orang bahagia termasuk diri sendiri."

Mereka pun sadar dan mulai menyuapi orang yang ada di depan mereka. 

Pesan : Jangan hanya memikirkan kebahagiaan diri sendiri. Namun, berbagilah kebahagiaan itu dengan orang lain. Betapa damainya dunia jika setiap satu orang bisa berbagi kebahagiaan dengan satu lainnya. Maka tidak akan ada yagn namanya permusuhan. Oleh karena itu, buanglah rasa ego kalian dan mulailah pikirkan perasaan orang lain yang sama-sama ingin bahagia :D


 

Read more...