Saturday, 28 January 2012

Empat Istri

Pada zaman dahulu, ada seorang jutawan kaya yang memiliki empat orang istri. Dia paling mencintai istri ke-4 nya dan memanjakannya dengan berbagai fasilitas hidup yang mewah. Dia sangat penuh perhatian terhadap istri ke-4 dan selalu memberinya yang terbaik. 

Dia juga sangat mencintai istri ke-3 nya. Dia sangat membanggakannya dan selalu ingin memerkannya kepada teman-temannya. Namun demikian, jutawan ini sangat khawatir kalau istri ke-3 ini kabur dengan laki-laki lain. 

Dia juga mencintai istri ke-2 nya. Istri ke-2 ini adalah perempuan yang penuh pengeritan, penyabar, dan menjadi sandaran jutawan itu. Bila jutawan ini sedang menghadapi masalah, istri ke-2 selalau datang dan membantunya memberikan jalan keluar dari masalahnya.

Istri pertama adalah perempuan yang sangat setia dan telah berjasa besar dalam menjaga kekayaan dan kejayaan sang suami, serta mengurus rumah tangga mereka. Namun demikian, sang pedagang kurang mencintai istri pertamanya dan jarang memerhatikannya. 

Suatu hari, jutawan ini jatuh sakit dan tak lama lagi dia akan segera pergi dari dunia ini. Dia teringat kehidupan mewah yang telah dijalaninya dan merenung, "disini aku punya empat istri yang mencintaiku, tapi kalau aku mati aku akan sendirian. Aku akan kesepian!"

Dia lalu memanggil istri ke-4, "aku paling mencintaimu, melimpahimu dengan busana terbaik, dan mencurahkan perhatian besar kepadamu. Sebentar lagi aku akan mati, maukah kamu pergi bersamaku?" Istri ke-4 menjawab, "mana bisa!" Istri ke-4 langsung meninggalkan jutawan itu. Jawaban itu telah menghancurkan hati sang jutawan. 

Sang jutawan pun kecewa, lalu memanggil dan bertanya kepada istri ke-3 nya, "aku mencintaimu dengan sepenuh hatiku, tapi aku akan mati, maukah kau pergi bersamaku?" Istri ke-3 pun menjawab, "Enak aja! Hidup itu begitu nikmat! Aku akan menikah lagi." mendengar jawaban istri ke-3, hati sang jutawan pun runtuh. 

Dengan sedih, dia bertanya kepada istri ke-2, "aku selalu berpaling padamu dan kamu selalu menolongku. Sekarang aku butuh pertolonganmu lagi. Kalau aku mati, maukah kamu pergi bersamaku?" Istri kedua menjawab, "maaf sayang, kali ini aku tidak sanggup menolongmu. Paling, aku hanya bisa mengantarmu ke pemakaman dan mengurus semuanya." Sekali lagi, jawaban istri kedua membuat hati sang jutawan hancur berantakan. 

Tiba-tiba, di tengah kepedihan hatinya, terdengarlah suara parau, "jangan khawatir sayang. Aku akan ikut kemanapun kamu pergi." Sang jutawan membuka matanya dan tampaklah paras istri pertamanya. Ia begitu kurus, lemah, dan tampak kurang gizi. Sang pedagang tersentuh, "Seharusnya aku memperhatikanmu selagi aku bisa!" 

Pesan : Yang ingin saya pesankan disini bukanlah belajar untuk setia atau mencintai atau apalah. Tapi yang ingin saya tekankan disini adalah istri ke-4 bagaikan tubuh jasmani kita. Tak pedulu seberapa lama dan seberapa besar usaha kita untuk merupawankan dan mendandani tubuh, tubuh tidak akan pergi bersama kita saat mati. Mana bisa? 

Istri ke-3 ibarat harta dan tahta kita. Ketika kita mati, tidakkah mereka pergi menjadi milik orang lain? Orang lain akan mengambil alih jabatan kita!

Istri ke-2 ibarat keluarga dan kawan kita. Tak peduli betapa baiknya mereka semasa kita hidup, paling mereka hanya bisa mengantar kita ke pemakaman. 

Istri pertama, diibaratkan sebagai perbuatan baik kita, yang sering kita abaikan sepanjang waktu dalam pengejaran kesenangan materi dan indrawi. Padahal, hanya inilah satu-satunya yang terus bersama kita kemanapun kita pergi.

Oleh karena itu jangan terlambat untuk melakuakn perbuatan baik. Karena ketika ajal datang kita hanya bisa berkata, Harusnya aku memperhatikanmu selagi aku bisa!"



Read more...

Friday, 27 January 2012

Mencuri tanpa ketahuan

Pada zaman dahulu kala, seorang raja ingin menikahkan putrinya dengan seorang laki-laki yang pantas. Raja lalu mengadakan sayembara bagi para laki-laki yang mampu mencuri sesuatu dari dalam istananya yang dijaga ketat, tanpa ketahuan oleh siapa pun. Pemenangnya berhak untuk menikahi putrinya.

Dalam kurun waktu yang ditentukan, banyak pemuda mengikuti sayembara ini dan menunjukkan kebolehannya. Mereka mengerahkan berbagai kepiawaian dan kesaktian untuk menerobos penjagaan ketat di istana. 

Pada hari penentuan, para peserta dikumpulkan. Pemuda pertama dipanggil menghadap raja dan ditanya hasilnya. Ia menjawab, "Saya mencuri batu rubi ini dan tak seorang pun di istana yang mengetahuinya." Raja menjawab, "Bukan kamu pemenangnya!"

Pemuda kedua maju, "Semalam saya mengambil kereta kencana dan membawanya keluar gerbang, para penjaga saya buat terlelap semua, tak ada yang melihat saya." Raja mempersilahkan peserta itu duduk kembali. 

Dengan mantap, peserta berikutnya menghadap, "Ampun paduka, sayalah yang mengamil mahkota paduka, dan seluruh barisan pertahanan istana tak ada yang menyadarinya." Raja menggeleng

Semua menjadi bingung, karena masih saja belum ada yang dinyatakan sebagai pemenang. Akhirnya, seorang pemuda menghadap dengan tangan kosong dan berkata, "Saya tidak mendapatkan apapun." Raja bertanya, "Mengapa begitu?" Pemuda tersebut menjawab, "Sungguh tidak mungkin kita bisa mencuri tanpa ketahuan oleh siapa pun, karena setidaknya selalu ada satu orang yang mengetahuinya, yaitu diri kita sendiri." Raja pun tertawa lebar dan menyambut sang menantu barunya.

Pesan : Dalam hidup kita, kita sering kali melupakan bahwa diri kita selalu mengetahui segala apapun yang kita perbuat, baik itu perbuatan baik maupun perbuatan buruk. Oleh karena itu, disaat kita ingin berbuat buruk, kembangkanlah rasa malu untuk berbuat jahat dan rasa takut akan akibat yang akan kita peroleh. Karena ingatlah, diri kita adalah saksi dari setiap perbuatan kita. 




Read more...

Aku Mau Mama Pulang

Sebuah kisah nyata tentang seorang anak laki-laki bernama Zhang Da yang hidup si provinsi Zhejiang, Tiongkok. Anak ini baru saja berusia 10 tahun, namun dia bisa menghidupi dirinya sendiri dan mampu merawat dan membiayai ayahnya yang sakit keras.

Zhang Da ditinggal pergi oleh mamanya yang sudah tidak tahan hidup menderita karena miskin dna karena suaminya yang sakit keras. Sejak saat itu, Zhang da hidup dengan seorang papa yang tak mampu bekerja, tak mampu berjalan, dan sakit-sakitan. Keadaan ini memaksanya untuk menggambil tanggung jawab yang sangat berat. 

Ia harus sekolah, ia harus mencari makan untuknya dan ayahnya, ia juga harus memikirkan biaya obat-obatan yang tidaklah murah. Setiap hari, dalam perjalanan ke sekolah, ia melewati sebuah hutan kecil. Ia makan daun, biji-bijian, dan buah-buahan yang ditemuinya. Kadaing ia memakan jamur ataupun rumput. Dari situ, ia belajar mengenai tumbuhan-tumbuhan mana saja yang bisa dikonsumsi. 

Sepulang sekolah, siang sampai sore biasanya ia bergabung dengan para tukang batu untuk memecahkan batu-batu besar. Upahnya sebagai pemecah batu, ia gunakan untuk membeli beras dan obat-obatan untuk papanya. Dia menjalaninya selama lima tahun, namun badannya tetap sehat, segar, dan kuat. 

 Setiap harinya, Zhang Da merawat papanya dengan sangat baik. Ia memapah papanya ke kamar kecil, ia memandikan papanya, ia juga belanja seluruh kebutuhan sehari-hari untuknya dan papanya. Segala urusan papanya menjadi tugasnya sehari-hari.

Obat yang mahal dan jauhnya tempat berobat membuat Zhang Da belajar tentang obat-obatan melalui sebuah buku bekas yang dibelinya. Bahkan, ia belajar dari seorang suster cara menyuntik sendiri papanya. Anak lain biasanya bermain menjadi dokter-dokteran, tetapi Zhang Da tidak melakukannya untuk main-main. 

Apa yang dilakukan Zhang Da memanglah sebuah perbuatan nekad. Namun, sejujurnya Zhang Da adalah anak yang berani, kreatif, dan mau belajar untuk mengatasi kesulitan yang menerpanya. Tugas menyuntik itupun dilakukannya selama lima tahun, dan ia pun menjadi terampil dalam menyuntik. 

Suatu hari, para pejabat, artis, dan tokoh masyarakat yang kagum terhadap Zhang Da dan datang ke rumahnya untuk melihat bagaimana keadaan Zhang Da. Saat seorang reporter bertanya, "Zhang Da, bilang saja kamu mau minta apa, sekolah di mana, berapa uang yang kamu butuhkan, nanti kamu mau kuliah di mana, sebut saja! Saat ini ada ratusan juta orang yang sedang melihatmu melalui layar televisi. Mereka bisa menolongmu!"

Zhang Da terdiam, tidak mau menjawab apa-apa. Setelah beberapa detik membisuakhirnya dengan suara bergetar, Zhang Da pun menjawab, "Aku mau mama pulang. Mama, kembalilah ke rumah. Aku bisa membantu papa, aku bisa cari makan sendiri. Mama pulanglah!"

Para penonton pun menitikkan air mata karena terharu. 

Pesan : Tidak ada yang tidak mungkin dalam kehidupan ini jika kita mau berjuang dan berusaha. Kebahagiaan dan segala yang kita inginkan, tidak datang dengan sendirinya hanya dengan kita meminta atuapun berdoa. Tapi, semua itu datang melalui bagaimana kita berusaha melawannya. 

Apabila kita punya semangat dan keinginan untuk berjuang, apapun bisa saja terjadi. Apapun bisa saja menjadi milik kita. Semua hanya tergantung dari mana kita akan memulai dan bagaimana usaha kita untuk mencapainya. 




Read more...

Tuesday, 24 January 2012

Ayah Pilih Kasih

Sejak kecil hingga dewasa, aku selalu mendapat pakaian bekas kakak laki-lakiku. Bagaimanapun, seorang gadis yang mengenakan pakaian kakaknya yang longgar dan usang, rasanya sangat janggal. Saat pulang sekolah, aku selalu berlengah-lengah jalan di belakang, takut kepergok teman-temanku yang akan mengejek dan menertawakanku. 

Kakakku seorang laki-laki cacat, lebih tua lima tahun dariku. Meski aku anak perempuan, aku sangat tekun belajar, setiap ujian aku selalu mendapat peringkat pertama. 

Seharusnya, akulah yang pantas disayang ayah. Karena hal ini, aku selalu tidak terima akan sikap ayah terhadapku. Saat tahun baru, lagi-lagi ayah membelikan pakaian baru untuk kakak, sedangkan aku tidak satu pun. Aku tak tahan lagi, melabrak ayah sambil berteriak, "Ayah pilih kasih! Aku benar-benar tidak mengerti. Ia hanya laki-laki cacat, apa bagusnya meski berpakaian bagus sekalipun?" Mendengar itu, bukan main marahnya ayah dan ia menamparku. 

Sejak itu, aku makin benci sama keluarga ini. Aku belajar dengan tekun dan berencana hendak meninggalkan keluarga ini setelah lulus ke perguruan tinggi. Abangku hanya sekolah beberapa tahun, setelah itu berhenti dan tinggal di rumah. 

Setelah lulus sma, aku diterima di sebuah lembaga ilmu kedokteran. Dua tahun kemudian,  aku menjalin asmara dengan seorang pria. Kami berunding untuk membeli rumah di daerah kota. Keluarga pacarku tinggal di desa, keadaan ekonomi mereka juga biasa-biasa saja. Kami telah menyimpan sebagian tabungan, tapi untuk kredit rumah masih kurang. Saat aku ingin meminjam uang kepada ayah, ayah malah berkata "uang tabungan keluarga dibutuhkan kakakmu untuk memperistri nanti." Perkataan ayah itu benar-benar membuatku kecewa.

Akhirnya aku pun menikah disusul dengan kakakku yang menikah dengan salah satu tetangga kami. Ayah mengeluarkan banyak uang untuk pernikahan kakakku dan dengan diselenggarakan dengan cukup mewah. 

Setelah menikah, aku jarang pulang ke rumah. Sampai suatu ketika, ayahku berulang tahun yang ke-60, ibu menelponku, tapi aku terus menolak dengan beralasan sibuk dan lainnya. Namun, karena suamiku memaksaku, akhirnya aku pun mengiyakan untuk datang ke acara itu. 

Sesampainya disana, aku memberi sedikit uang pada ayah. Namun, ayah berkata, "Kalian juga bukan keluarga berada. Simpan saja uang ini untuk kalian." Aku pun berkata dengan nada datar, "Iya, aku memang tidak memiliki apa-apa dan terus berjuang untuk memenuhi kebutuhanku sendiri. Tidak seperti kakak." Ayah pun menyadari maksud perkataanku dan tidak melanjutkan pembicaraan. 

Malamnya, aku tidur bersama ibu. Pada malam itu ibu mengatakan, "gadis manis, lain kali tidak boleh berkata begitu sama ayah." Aku pun menjawab, "Siapa suruh ayah pilih kasih!" Ibu pun berkata kembali, "Sayang tahukah kamu kenapa kaki kakakmu cacat?" Aku menggeleng. "Saat kamu masih anak-anak, suatu ketika ayah membawamu dan kakakmu menumpangi traktor di pekan raya. Namun, traktor itu terbalik di tengah jalan, dengan nalurinya ayah memelukmu dan meloncat keluar. Namun, ketika ayah kembali mencari kakakmu, kakinya sudah tertimpa roda traktor. Kakakmu pun langsung dibawa ke rumah sakit. Nyawanya memang selamat, tapi meninggalkan cacat seumur hidup. Ia merasa sangat bersalah karena tidak melindungi kalian dengan baik sekaligus. Ayah tidak mau menceritakan ini padamu, agar kelak kau tidak memikul beban yang berat" 

Air mata pun berlinang membasahi wajahku.

Pesan : Dalam kehidupan kita, banyak sekali hal yang terkadnag kita tidak ketahui. Namun, kita tidak pernah mencoba mencari tahu sumber permasalahan suatu hal dan kita lebih sering langsung menanggapi suatu hal tanpa tahu sebab na terlebih dahulu.

Sesal di kemudian tidaklah berguna. Itulah pepatah yang seringkali kita dengar. Oleh karena itu, pikirkan baik-baik apa yang akan kita lakukan. Apakah akan berguna kelak? Apakah akan menyakiti orang lain atau tidak? Karena menyesal pun tidak bisa merubah segala sesuatu yang telah terjadi 



Read more...

Monday, 23 January 2012

Kau dan Aku

Ingatanku sejak dulu memang kurang baik. Dan kini ingatanku semakin kabur karena perjalanan waktu. Tapi kukira ada hal-hal yang masih tersimpan dalam begitu baik di kepalaku. Itu masa-masa paling bahagia dalam hidupku. Kita masih sangat muda waktu itu.

Usiamu masih sangat muda. Sekitar tiga tahun. Langkah kakimu masih goyah. Ketika berjalan selalu berjinjit-jinjit kecil. Kau suka berlari dan ayah ibumu ajan mengejarmu dengan panik. Kau juga masih sering merangkak. Kau akan mencolekku dan membangunkanku dari tidur. Aku paling malas kalau dibangunkan. Tapi, karena kau terus menggelitikku, aku pun bangun dan dengan manja naik ke pangkuanmu. Aku ingat kau seorang yang takut geli setiap kali aku memanjat pahamu. Aku sering melihatmu tertawa kegelian dengan air liur menetes dari bibir mungilmu yang merah berkilau.

Ketika kau mulai bersekolah, aku dengan setia menunggumu. Sungguh bosan rasanya di rumah tanpa kau yang selalu bermain bersamaku. Aku sering tertidur ketika menunggumu. Tapi kemudian, aku hafal dengan jadwalmu. Aku bisa merasakan kehadiranmu 5 menit sebelum kedatanganmu. Dan aku akan segera menerjang ke arahmu ketika kaki pertamamu menginjak tanah. Terkadang aku melompat ke dalam mobil sebelum kau sempat turun. 

Kau punya seperangkat alat masak-masakan. Terkadang aku menemanimu bermain. Sampai suatu hari, aku merusak perangkat masak-masakanmu dan kau menangis tanpa henti. Aku merasa sangat bersalah, tapi tidak bisa berbuat apa-apa. Kau baru tersenyum lagi setelah ibumu membelikan satu perangkat baru. Tapi sejak saat itu, kau enggan mengajakku bermain lagi. 

Kita juga sering berjalan-jalan bersama di sekitar kompleks. Terkadang lomba lari sampai kejar-kejaran. Masa-masa itu sungguh menyenangkan. Aku masih ingat saat suatu ketika,  beberapa anak nakal menganggumu. Aku sangat marah. Aku menggemeretakkan gigiku dan sorot mataku berubah garang. Aku sempat mengejar mereka hingga beberapa meter sebelum aku memanggilku. Aku sangat marah bila ada yang mencoba menyakitimu. 

Terkadang kau kesepian karena ayah ibumu pergi. Kau anak satu-satunya, dan hanya ada aku dan pembantu yang menemanimu. 

Masa-masa saat kau masih kecil dipenuhi dengan keriangan kita berdua. Tapi waktu tersu berjalan hinga tidak terasa kau mulai tumbuh remaja dan waktu kebersamaan ktia semakin berkurang. Terkadang kau habiskan waktu seharian mengurung diri di dalam kamar menonton televisi. Kau juga sering keluyuran dengan teman-temanmu. Jika kau akhirnya membawaku jalan-jalan, itu kau lakukan dengan berat hati karena ibumu memaksa. 

Aku sadar aku hanyalah menjadi beban bagimu. Kau tidak lagi suka menghabiskan waktu bersamaku. Aku juga semakin letih dan lemah. Aku sudah tua. Lebih baik bila aku sendirian saja. Aku sudah cukup bahagia bila melihatmu baik-baik saja. 

Aku hanya seekor anjing dan kau manusia. Tapi kurasa, persahabatan kita dulunya murni karena saling suka. Jika kau bisa melupakanm masa kecilmu yang ceria ketika bermain bersamaku, maka jujur saja, aku tak bisa. Duniaku terasa berharga karena pernah begitu bahagia oleh keberadaanku. 

Aku menyaksikanmu tumbuh. Tapi aku sangsi kau akan menyadari kematianku. Aku seekor anjing dan kau manusia. Kita tidaklah sama. Dunia kita berbeda. Ternyata hal itu menjadi jurang pemisah diantara kita. 

Pesan : Hargailah orang-orang yang pernah berusaha membuatmu bahagia. Sehina dan sejelek apapun seseorang itu, dia pernah berusaha untuk membantumu dan membuat dirimu lebih bahagia. Jangan pernah lupakan jasa-jasa orang tersebut dan jangan pernah malu untuk mengakuinya. 




Read more...

Pangeran Bahagia

Suatu ketika, seekor burung walet akan bermigrasi ke mesir karena sebentar lagi, musin dingin akan tiba. Di tengah perjalanan, karena hari sudah malam, ia pun memutuskan untuk beristirahat di bawah sebuah patung emas. Burung itu pun merasa nyaman, karena bisa beristirahat di rumah yang terbuat dari emas. 

Namun, di saat burung itu sedang tertidur ia merasakan ada tetesan-tetesan air jatuh di kepalanya. Burung itu pun terbangun dan mencari sumber darimana air itu jatuh. Namun, burung itu tidak menemukan adanya tanda-tanda hujan. Betapa kagetnya burung itu melihat mata dari patung emas itu mengeluarkan air mata. 

Burung itu pun bertanya kepada patung emas tersebut, "Kenapa kamu menangis patung emas?" Patung emas itu pun menjawab, "Aku adalah pangeran Bahagia. Semasa aku hidup, aku tinggal di dalam istana dan tidak pernah merasakan apa itu kesedihan. Yang aku tahu, hidupku hanyalah bahagia dan bersenang-senang di dalam istana. Sampai saat aku meninggal, aku diletakkan di pusat kota ini. Disini, aku bisa melihat bagaimana kehidupan rakyatku selama ini. Meskipun hatiku terbuat dari baja, namun aku tetap dapat merasakan kesedihan." 

"Lalu apa yang bisa aku perbuat untuk membantumu pangeran Bahagia?" tanya si burung. Pangeran Bahagia menjawab, "di ujung jalan ini, terdapat seorang penjahit yang sangat miskin. Anaknya sakit keras, namun ia tidak bisa membelikan obat. Ia hanya bisa memberinya air sungai saja. Cabutlah berlian dari mataku ini dan berikan kepadanya. Aku tidak bisa bergerak, kakiku tertancap disini." Burung walet itu pun menjalankan tugasnya dengan baik. 

Burung walet itu pun kembali dan berkata kepada pangeran Bahagia, "aku sudah menjalankan tugasku. Aku akan melanjutkan perjalanan ku ke mesir. "Tunggu burung!" pinta pangeran Bahagia. "aku ingin meminta tolong sekali lagi. Di ujung timur sana ada seorang gadis kecil penjual korek api. Semua koreknya jatuh ke sungai dan belum terjual sama sekali. Jika ia pulang seperti ini, ayahnya akan mengusirnya dari rumah. Cabutlah berlian terakhir di mataku dan berikan ini kepadanya." Burung itu pun menjawab, "Bila kau berikan lagi matamu yang satu lagi, maka kau akan buta." Pangeran itu pun berkata lagi, " Tidak apa-apa burung kecil. Cepat berikan mataku kepadanya."  Burung itu pun kembali menjalankan tugasnya.

Burung itu pun kembali dan berkata, "pangeran, sekarang kau sudah buta. Aku akan menemanimu disini." Pangeran itu pun menjawab, "tidak burung. Kau harus segera ke Mesir bukan? Kau tidak perlu menemaniku disini. Biarlah aku sendirian." Burung itu pun berkata lagi, "tidak. Aku tidak akan meninggalkanmu sendiri." Pangeran itu pun berkata lagi, "baiklah kalau begitu. Tolong aku lihat bagaimana keadaan kota sekarang dan laporkan padaku."

Burung pun kembali dan melaporkan kepada pangeran bahwa keadaan kota sekarang sangatlah miskin. Banyak pencurian dimana-mana, banyak rakyat kelaparan dan lainnya. Pangeran pun berkata kepada burung, "ambillah lapisan-lapisan emas dari tubuhku ini dan bagikan kepada rakyat-rakyat yang miskin." Burung itu pun kembali menjalankan tugasnya. 

Suatu ketika, disaat musim dingin telah tiba burung itu pun berkata kepada pangeran, "Pangeran, aku rasa sebentar lagi aku akan meninggalkanmu untuk selamanya. Aku sudah sangat lemah." Setelah mengucapkan kata-kata itu, burung itu pun terjatuh dan tidur untuk selama-lamanya tepat di antara kedua kaki pangeran Bahagia. 

Keesokan harinya, warga-warga pun berdiri memandangi patung pangeran bahagia. "Lihat patung ini, seluruh berliannya telah hilang. Warnanya pun kini tak lagi emas. Dan ada bangkai burugn pula di antara kedua kakinya. Lebih baik kita lebur saja patung ini." Mereka pun meleburkan patung pangeran Bahagia. Namun, ada satu bagian yang tidak bisa hancur sama sekali yaitu hatinya. 

Pesan : Tidak ada yang kekal di dunia ini. Raga suatu hari akan hancur seiring dengan waktu. Lapuk dan terendap di bawah tanah. Namun, Jasa kebaikan seseorang tidak akan pernah hancur dan akan selalu teringat di dalam ingatan setiap orang. 




Read more...

Friday, 16 September 2011

Kisah 3 permintaan

Cerita tentang seorang bos dan dua orang karyawannya. Suatu ketika, si bos mengajak sekretarisnya dan juga office boy nya untuk makan siang bersama karena kedua orang karyawan itu merupakan karyawan kesayangan si bos.

Singkat cerita, di tengah perjalanan menuju restoran, mereka menemukan sebuah toko barang antik. Mereka pun masuk ke toko itu karena penasaran. Mereka menemukan sebuah lampu yang bentuknya unik. Si office boy yang begitu tertarik dengan lampu itu menggosok lampu itu dengan penasaran. Tiba-tiba dari lampu itu muncullah asap yang mengepul dan keluarlah sesosok makhluk raksasa keluar dari lampu itu.

"Ha ha ha. Aku adalah dewa yang terperangkap di lampu ini selama beratus-ratus tahun dan aku menunggu seseorang yang akan membebaskanku. Sebagai rasa terima kasihku, aku akan mengabul masing-masing 1 permintaan kalian bertiga." Ucap sang dewa.

 Si sekretaris dan office boy pun berebutan untuk meminta permintaan itu. Namun akhirnya si sekretaris mengalah dan membiarkan si office boy mengucapkan permintaanya terlebih dulu. Si office boy pun berkata kepada sang dewa, "Wahai dewa, aku dari lahir sudah hidup miskin sampai hari ini. Aku tidak pernah merasakan hidup mewah. Hanya satu pintaku dewa, aku ingin hidup mewah di Amerika di rumah yang besar dan dipenuhi oleh wanita-wanita cantik. Dalam sekejap, si office boy pun menghilang dan telah hidup seperti apa yang dia minta tadi.

Lalu, si sekretaris pun mengucapkan permintaanya. Dia berkata, Wahai dewa, sebenarnya hidupku sih sudah enak-enak saja. Namun, aku bosan hidup di Indonesia. Jadi, aku ingin jadi sekretaris di gedung putih Amerika." Dalam sekejap pun si sekretaris sudah berpindah menjadi sekretaris Obama di Amerika.

Terakhir tinggal si bos yang belum mengucapkan permintaanya. Sang dewa pun bertanya, "Wahai bos hidupmu sudah sangat enak. Lalu, apa yang ingin kau minta padaku?" Si bos pun berkata, "Wahai dewa, mereka berdua adalah karyawan kesayanganku. Jadi pastikan mereka kembali ke kantor tepat jam 1 siang."

 Pesan : Tidak mau mengalah adalah sebuah penyebab masalah. Andaikan tadi kedua orang karyawannya mau mengalah dan membiarkan si bos mengucapkan permintaanya terlebih dahulu, mungkin saja mereka bisa mengatur supaya kebahagiannya itu bisa terus berlanjut.

Sama seperti kita yang selalu ingin terburu-buru dan tidak mau mengalah saat kita diberikan sebuah kesempatan yang sangat mengasyikan. Biasanya kita lebih mementingkan diri sendiri terlebih dulu daripada orang lain. Itulah yang harus kita ubah.   


Read more...

Friday, 19 August 2011

Persyaratan untuk Cerai

Kisah tentang dua orang pasangan yang baru saja menikah. Mereka sudah menjalin hubungan sejak lama dan baru saja menikah. Hari pertama pernikahan, mereka merasa sangat bahagia. Setiap pagi si suami selalu menggandeng tangan istrinya keluar dari kamar dan selalu mengatakan kepada istrinya "Aku Sayang Padamu."
Kebiasaan itu terus terjadi setiap hari.

Tahun demi tahun berlalu, kebiasaan baik itu pun lama kelamaan mulai dilupakan dan hubungan pernikahan mereka pun semakin lama semakin menjadi kurang harmonis. Sampai akhirnya, mereka pun memiliki seorang anak laki-laki.

Sang suami yang semakin lama semakin tidak punya waktu untuk istri dan anaknya hanya sibuk dengan urusan pekerjaannya saja. Si istri pun semakin lama merasa jenuh. Ternyata, si suami telah memiliki pacar baru yang jauh lebih muda dibanding istrinya di luar sana.

Sampai akhirnya, suatu sore sepulangnya dari kantor si suami memberikan selembar kertas pada istrinya. Alangkah kagetnya sang istri melihat isi surat itu adalah surat perceraian. Di kertas itu, si suami menuliskan bahwa sang istri boleh mengambil 50% dari kekayaan mereka, mengambil salah satu rumah suaminya dan boleh memiliki mobil suaminya. Spontan si istri langsung merobek surat itu dan menuju ke kamar.

Malam itu pun, mereka pun tidur saling diam-diaman tanpa percakapan sedikitpun walaupun tidur seranjang. Keesokan paginya, si istri pun memberikan selembar kertas panjang dan mengatakan "Aku tidak perlu harta apapun darimu untuk bercerai. Aku hanya ingin kau melaksanakan syarat yang kutulis saja."

Si suami pun membaca dan kaget. Surat itu berisikan, "Aku rela diceraikan olehmu 1 bulan lagi dan selama sebulan itu, setiap pagi kamu harus menggandeng tanganku keluar dari kamar seperti waktu pertama kali kita menikah dan kamu harus mengatakan padaku, "Aku Sayang Padamu" seperti hari pertama kita menikah.

Si suami pun menyetujui dan segera menuju ke rumah pacar barunya dan memberi tahu semuanya. Si pacar pun menyetujui untuk menceraikannya sebulan lagi. Keesokan paginya, si suami segera menggandeng tangan istrinya keluar kamar sesuai syarat. Anak mereka pun melihat dan mengatakan, "Asikk!! Papa gandeng mama!" suatu kejadian yang jarang sekali dilihat oleh anaknya. Si suami pun merasa canggung begitu pula dengan si istri. Namun, si istri berkata "tetap lanjutkan biarkan anak kita melihat kita seperti ini."

Keesokan harinya, si suami pun melakukan hal yang sama. Perasaan canggung diantara keduanya pun mulai sedikti menghilang. Begitu pula seterusnya. Suatu ketika, si istri meminta sang suami untuk memakaikan gaun kepada istrinya. Si istri berkata "Pa, gaunku sudah kebesaran yah." Si suami pun sadar bahwa tubuh istrinya sudah semakin kurus dari yang dulu. Lalu, ia memperhatikan wajah istrinya dan tampak banyak sekali keriput di wajah istrinya. Dan si suami menyadari bahwa istrinya sudah bertambah tua.

Semakin lama mereka melakukan kebiasaan itu, si suami pun sadar bahwa sebenarnya dia masih sangat menyayangi istrinya itu. Hanya saja, mereka sudah meninggalakan banyak kebiasaan positif sehingga perasaan cinta itu pun hilang.

Sampai hari ke 30, si suami menuju ke rumah pacar barunya dan berkata "Aku tidak jadi cerai. Aku masih sangat menyayangi istriku dan aku tidak akan pernah berpisah dengannya." Si pacar baru itu pun marah dan menamoar si suami. Namun, si suami langsung pergi dan segera menuju ke toko bunga. Dia membeli bunga yang paling mahal yang bertuliskan "I Love You" dan segera pulang.

Namun, alangkah kagetnya ia menemukan tubuh istrinya sudah terkapar lemah tak bernyawa di ranjang. Rupanya, istrinya sudah divonis kanker stadium akhir oleh dokter dan hidupnya hanya tinggal sebulan. Si suami merasa sangat menyesal.

Pesan : Janganlah menyia-nyiakan apa yang kamu punya sekarang. Karena sesuatu akan terasa sangat berharga saat anda sudah kehilangannya. Selain itu, jangan pernah tinggalkan kebiasaan baik yang sering kita lakuakn karena sedikit banyak itu meembawa manfaat untuk kita. 


Read more...

Kisah 3 ekor ikan

Alkisah di suatu danau hiduplah 3 ekor ikan. Ikan yang pertama bernama Karma. Ikan yang kedua bernama Semangat. Ikan yang ketiga bernama kebijaksanaan. Ketiga ekor ikan ini hidup damai dan berdampingan di danau tersebut.

Sampai suatu ketika, seorang nelayan datang untuk menangkap ketiga ekor ikan itu dengan sebuah jaring besar. Karena mereka tidak sadar, tertangkaplah mereka ke dalam jaring besar itu. Mereka bertiga pun dalam bahaya.

Namun, ikan yang bernama semangat itu pun tidak putus asa begitu saja. Ia terus berusaha sampai akhirnya jaring si nelayan itu pun robek. Ikan kedua yang bernama bijaksana, begitu melihat ada lubang di jaring itu langsung secepat mungkin keluar. Kedua ikan itu pun selamat dari tangkapan si nelayan.

Berbeda dengan si ikan ketiga yang bernama Karma. Dia berpikir bahwa "Ini belum saatnya bagiku untuk mati, maka aku pasti tidak akan mati sekarang." dan ia tidak melakukan sedikit usaha pun agar bisa terbebaas dari jaring itu. Akhirnya, si karma pun tertangkap oleh nelayan.

Pesan : Jangan pernah menyerah pada keadaan, apalagi pasrah terhadap karma. Karena karma itu tidak menentukan segalanya. Karma memang menentukan segalanya. Namun, tidak semua diatur oleh karma. Karma hanyalah salah satu faktornya. Yang terpenting adalah bagaimana usaha kita untuk mencapai sesuatu dan bagaimana kita menggunakan pikiran dan kecerdasan kita untuk menyelesaikannya. 

 


Read more...

Thursday, 5 May 2011

Ego

Cerita kali ini adalah ceritakan yang bertemakan tentang egoisme atau pemikiran tentang hanya ingin membahagiakan "Aku". Disini saya akan berbagi sebuah kisah tentang dimana kita harus bisa sesekali memikirkan tentang orang lain.

Seorang gembala sapi yang mungkin hampir dikatakan tidak pernah menyentuh makanan mewah, suatu hari diundang ke kerajaan untuk makan bersama. Sang gembala pun kaget bukan main. Awalnya ia mengira itu hanyalah mimpi. Namun, dia bertanya pada tetangga-tentangganya dan rupanya bukan hanya dia saja yang diundang. Tetangganya pun juga diundang semua. 

Sesampainya di istana, sang gembala bersama para warga lainnya melihat sebuah meja besar penuh dengan makanan-makanan yang mewah dan enak. Lalu, semua warga itupun duduk di kursi yang telah disediakan. Namun, seketika mereka terkejut saat kedua tangan mereka diikat siku mereka diborgol sehingga mereka tidak bisa memasukkan makanan sedikitpun ke mulut mereka.

Sampai akhirnya, salah seorang dari  mereka berkata pada raja, "Buat apa raja mengundang kami kalau anda hanya menjebak kami seperti ini? Dasar kau! Rupanya anda hanya menjebak kami saja." 

Lalu sang raja pun menjawab, "Siapa yang menjebak kalian? Saya hanya ingin mengajarkan kalian sebuah hal yang berharga. Coba anda semua luruskan tangan anda. Suapi satu orang yang ada di depan anda. Maka anda semua pasti dapat makan dengan enak. Alangkah bahagianya jika kita dapat hidup tidak hanya memikirkan kebahagiaan diri sendiri saja, namun bisa membuat semua orang bahagia termasuk diri sendiri."

Mereka pun sadar dan mulai menyuapi orang yang ada di depan mereka. 

Pesan : Jangan hanya memikirkan kebahagiaan diri sendiri. Namun, berbagilah kebahagiaan itu dengan orang lain. Betapa damainya dunia jika setiap satu orang bisa berbagi kebahagiaan dengan satu lainnya. Maka tidak akan ada yagn namanya permusuhan. Oleh karena itu, buanglah rasa ego kalian dan mulailah pikirkan perasaan orang lain yang sama-sama ingin bahagia :D


 

Read more...

Monday, 25 April 2011

Makanan apa yang paling enak? (Perenungan)

Berjumpa lagi dengan saya. Mungkin kalau biasa saya menuliskan cerita pada blog saya ini. Namun, pada kesempatan ini saya ingin sedikit merubah yaitu dengan membuat sebuah perenungan yang cukup menarik. Saya juga berharap semoga perenungan singkat saya ini bisa bermanfaat bagi para pembaca. 

Sebelum memulai, saya ingin bertanya kepada pembaca sekalian. "Makanan apa yang paling enak?" Mungkin jawaban setiap orang itu berbeda-beda. Mungkin ada yang bilang "ayam goreng" atau "Pizza" atau "Hamburger" dll. Nah, kali ini saya ingin membuat sebuah perenungan mengenai makanan ini. 

Sekarang, saya akan memperlihatkan beberapa gambar yang mungkin bisa membuat anda menelan liur melihatnya. 






Makanan-makanan di atas tadi mungkin adalah makanan yang tergolong enak dan mungkin anda sangat ingin sekali memakan semua makanan di atas. Namun, apakah makanan-makanan di atas akan tetap enak bila anda memakannya dalam kondisi seperti ini:




Saya rasa mungkin jawaban anda adalah tidak. Mengapa saya bisa berkata demikian? Makanan seenak apapun seperti pada gambar di atas mungkin akan terasa enak apabila anda benar-benar dalam kondisi yang baik. Namun, jika kondisi anda kurang baik, anda tidak akan dapat menikmati makanan itu.

Karena semua itu berasal dari pikiran kita. Coba saja bayangkan bila makanan yang tersedia hanya seperti ini:




Namun saat anda memakannya anda dalam kondisi seperti ini:




Saya rasa meskipun makanan yang anda makan tak seberapa enak, namun anda akan merasakan makan yang penuh dengan kebahagiaan karena anda makan dengan perasaan yang senang. 

Pesan : Makanan yang anda makan maupun segala kondisi yang terjadi, semua berasal dari pikiran. Oleh karena itu, saat pikiran anda sedang dalam kondisi yang kurang baik, semua kondisi baik yang masuk ke dalam tubuh anda tidak akan terasa baik. Namun, saat pikiran anda sedang dalam kondisi yang sangat baik, meskipun kondisi yang masuk kurang baik. namun anda akan tetap merasa bahagia karena kondisi pikiran anda. 

Oleh karena itu, segala sesuatu itu berasal dari pikiran anda dan pikiran anda sendirilah yang menentukan bahagia atau tidaknya anda, senang atau sedihnya anda, dan selainnya itu semua diatur oleh pikiran. Oleh karena itu, kondisikan pikiran anda secara baik sehingga kondisi apapun yang masuk ke dalam diri anda akan tetap menjadi baik. 









Read more...

Wednesday, 13 April 2011

Apa itu bahagia?

Suatu ketika, ada seorang saudagar kaya dan anaknya yang tinggal di sebuah kota. Di kota itu, orang yang mampu memiliki kuda yang banyak dianggap sebagai orang yang kaya. Saudagar itu memiliki 10 ekor kuda. Suatu hari, saudagar itu memberi tugas pada anaknya untuk membawa jalan-jalan sepuluh ekor kudanya itu. Namun, saat pulang kuda yang dibawa oleh anak sang saudagar itu tinggallah 8 ekor. Sang saudagar merasa sangat sial. 

Keesokan harinya, kedua ekor kuda yang hilang itu pulang kembali ke rumahnya dengan membawa lagi 2 ekor kuda liar. Berarti, jumlah kuda yang dimiliki oleh sang saudagar bertambah. Dengan begitu pula, berarti sang saudagar bertambah kaya. Kini, sang saudagar merasa sangat bahagia.

Keesokan harinya, anak dari sang saudagar mencoba untuk menunggangi kuda liar tersebut. Namun, di luar kendali kuda liar itu mengamuk dan anak sang saudagar itu terjatuh. Akibat dari terjatuh itu, anak dari sang saudagar itu harus diamputasi kakinya. Kini, sang saudagar kembali merasa sial. 

Sebulan pun berlalu, negara tempat tinggal sang saudagar dan anaknya itu teradi perang. Setiap anak lelaki umur 17 sampai 25 tahun wajib mengikuti wajib militer. Namun, tidak diperuntukkan bagi orang yang cacat. Kini, sang saudagar merasa baeruntung karena anaknya tidak perlu mengikuti wajib militer. 

Pesan : Lalu, apa itu bahagia? Bahagia itu adalah saat kita mendapatkan apa yang kita inginkan. Apaka itu arti dari kebahagiaan? Jawabannya bukan! Kebahagiaan itu berasal dari dalam diri kita. Jadi, apapun yang terjadi kita harus bisa mengendalikan diri kita untuk tetap bahagia. 

Jadi, tidak ada orang lain yang dapat membuat kita bahagia selain diri kita sendiri. 



Read more...

Kisah Seorang Penebang Kayu

Alkisah, pada suatu ketika hiduplah seornag penebang kayu yang sangat hebat. Kemampuannya dalam menebang kayu sudah tidak perlu diragukan lagi. Keahliannya itu membuatnya terkenal. Bahkan kabar mengenai dirinya itu sampai terdengar ke telinga raja.

Raja yang terkesima dengan kemampuan dari sang penebang kayu itu pun ingin mengangkat penebang kayu itu menjadi penebang kayu kerajaan. Hari pertama sang penebang kayu kerja di kerajaan. Pada hari pertama, sang penebang kayu berhasil menebang 25 batang kayu dalam satu hari. Sungguh sebuah prestasi yang menakjubkan. Raja pun sangat bangga dengan hasil kerja dari sang penebang kayu.

Pada hari kedua, jumlah kayu yang dapat ditebang oleh sang penebang kayu itu pun berkurang. Jumlah kayu pada hari kedua hanyalah 18 batang kayu. Sang penebang kayu nampak sangat kecewa. Namun, sang raja tetap memuji hasil kerja sang penebang kayu dan menyuruhnya untuk mencoba lagi.

Pada hari ketiga, jumlah kayu yang dapat ditebang oleh sang penebang kayu hanyalah berjumlah 10 batang kayu. Sang penebang kayu nampak sangat kecewa. Namun, sang raja tetap memuji hasil kerja sang penebang kayu dan menyuruhnya untuk tetap berusaha. 

Begitulah seterusnya, sampai hari ketiga, keempat, kelima, dan keenam. Setiap harinya, jumlah kayu yang dapat ditebang oleh sang penebang kayu semakin berkurang saja. Sampai pada hari ketujuh, hanya 1 batang kayu yang dapat ditebang oleh sang penebang kayu. 

Lalu, dengan perasaan kecewa dan nampak frustasi, sang penebang kayu menghampiri sang raja dan melaporkan jumlah kayu yang dapat ditebang. Lalu sang raja menanyakan sebuah pertanyaan yang menyadarkan sang penebang kayu. Sang raja bertanya kepada sang penebang kayu, "Kapan terakhir kali kamu mengasah kapak kamu?" Sebuah pertanyaan yang singkat namun menyadarkan sang penebang kayu.   

Pesan : Kadang kala, kita lupa dengan sebuah hal yang sangat kecil bahkan sangat sepele sekali. Namun, tanpa kita sadari, hal-hal yang kecil dan sepele itu dapat mengubah seluruh hidup kita dan bahkan dapat menghancurkan atau dapat membuat kita bangkit. 

Oleh karena itu, perhatikanlah mulai dari hal yang terkecil, karena hal-hal yang sangat kecil itulah penentu keberhasilan kita. Hiduplah dengan waspada dan sadar maka anda akan berhasil dalam hidup anda.



Read more...

Wednesday, 2 March 2011

Jangan Benci Aku, Mama!!!

Cerita ini saya ambil dari sebuah website yang saya tidak hafal nama website nya. Saya mengutip cerita ini karena saya kira cerita ini sangat menyentuh dan bermanfaat sekali bagi para pembaca sekalian. Inilah ceritanya:

Dua puluh tahun yang lalu saya melahirkan seorang anak laki-laki,
wajahnya lumayan tampan namun terlihat agak bodoh. Sam, suamiku,
memberinya nama Eric. Semakin lama semakin nampak jelas bahwa anak ini
memang agak terbelakang. Saya berniat memberikannya kepada orang lain
saja untuk dijadikan budak atau pelayan. Namun Sam mencegah niat buruk itu. Akhirnya terpaksa saya membesarkannya juga.                                   


Di tahun kedua setelah Eric dilahirkan saya pun
melahirkan kembali seorang anak perempuan yang cantik mungil. Saya
menamainya Angelica. Saya sangat menyayangi Angelica, demikian juga Sam. Seringkali kami
mengajaknya pergi ke taman hiburan dan membelikannya pakaian anak-anak
yang indah-indah. Namun tidak demikian halnya dengan Eric. Ia hanya memiliki beberapa
stel pakaian butut. Sam berniat membelikannya, namun saya selalu
melarangnya dengan dalih penghematan uang keluarga. Sam selalu
menuruti perkataan saya. 


Saat usia Angelica 2 tahun Sam meninggal dunia. Eric sudah berumur
4 tahun kala itu. Keluarga kami menjadi semakin miskin dengan hutang
yang semakin menumpuk. Akhirnya saya mengambil tindakan yang akan
membuat saya menyesal seumur hidup. Saya pergi meninggalkan kampung
kelahiran saya beserta Angelica. Eric yang sedang tertidur lelap saya
tinggalkan begitu saja.

Kemudian saya tinggal di sebuah gubuk setelah
rumah kami laku terjual untuk membayar hutang. Setahun, 2 tahun, 5
tahun, 10 tahun.. telah berlalu sejak kejadian itu.
Saya telah menikah kembali dengan Brad, seorang pria dewasa. Usia
Pernikahan kami telah menginjak tahun kelima. Berkat Brad, sifat-sifat
buruk saya yang semula pemarah, egois, dan tinggi hati, berubah
sedikit demi sedikit menjadi lebih sabar dan penyayang. Angelica telah
berumur 12 tahun dan kami menyekolahkan dia di asrama putri sekolah perawatan.
Tidak ada lagi yang ingat tentang Eric dan tidak ada lagi yang
mengingatnya.

Sampai suatu malam. Malam di mana saya bermimpi tentang seorang anak.
Wajahnya agak tampan namun tampak pucat sekali. Ia melihat ke arah
saya.
Sambil tersenyum ia berkata, "Tante, Tante kenal mama saya? Saya lindu
cekali pada Mommy!" Setelah berkata demikian ia mulai beranjak pergi, namun saya
menahannya, "Tunggu..., sepertinya saya mengenalmu. Siapa namamu anak
manis?"
"Nama saya Elic, Tante."
"Eric? Eric... Ya Tuhan! Kau benar-benar Eric?"
Saya langsung tersentak dan bangun. Rasa bersalah, sesal dan berbagai
perasaan aneh lainnya menerpa diri saya saat itu juga. Tiba-tiba
terlintas kembali kisah ironis yang terjadi dulu seperti sebuah film
yang diputar dikepala saya. Baru sekarang saya menyadari betapa
jahatnya perbuatan saya dulu.Rasanya seperti mau mati saja saat itu.
Ya, saya harus mati..., mati..., mati... Ketika tinggal seinchi jarak
pisau yang akan saya goreskan ke pergelangan tangan, tiba-tiba
bayangan Eric melintas kembali di pikiran saya. Ya Eric, Mommy akan
menjemputmu Eric...

Sore itu saya memarkir mobil biru saya di samping sebuah gubuk, dan
Brad dengan pandangan heran menatap saya dari samping. "Mary, apa yang
sebenarnya terjadi?"
"Oh, Brad, kau pasti akan membenciku setelah saya menceritakan hal
yang telah saya lakukan dulu." tTpi aku menceritakannya juga dengan
terisak-isak. ..
Ternyata Tuhan sungguh baik kepada saya. Ia telah memberikan suami
yang begitu baik dan penuh pengertian. Setelah tangis saya reda, saya
keluar dari mobil diikuti oleh Brad dari belakang. Mata saya menatap
lekat pada gubuk yang terbentang dua meter dari hadapan saya. Saya
mulai teringat betapa gubuk itu pernah saya tinggali beberapa bulan
lamanya dan Eric..
Eric...

Saya meninggalkan Eric di sana 10 tahun yang lalu. Dengan perasaan
sedih saya berlari menghampiri gubuk tersebut dan membuka pintu yang
terbuat dari bambu itu. Gelap sekali... Tidak terlihat sesuatu apa
pun! Perlahan mata saya mulai terbiasa dengan kegelapan dalam ruangan
kecil itu.
Namun saya tidak menemukan siapapun juga di dalamnya. Hanya ada
sepotong kain butut tergeletak di lantai tanah. Saya mengambil seraya
mengamatinya dengan seksama... Mata mulai berkaca-kaca, saya mengenali
potongan kain tersebut sebagai bekas baju butut yang dulu dikenakan
Eric sehari-harinya. ..
Beberapa saat kemudian, dengan perasaan yang sulit dilukiskan, saya
pun keluar dari ruangan itu... Air mata saya mengalir dengan deras.
Saat itu saya hanya diam saja. Sesaat kemudian saya dan Brad mulai
menaiki mobil untuk meninggalkan tempat tersebut. Namun, saya melihat
seseorang di belakang mobil kami. Saya sempat kaget sebab suasana saat
itu gelap sekali. Kemudian terlihatlah wajah orang itu yang demikian
kotor.
Ternyata ia seorang wanita tua. Kembali saya tersentak kaget manakala
ia tiba-tiba menegur saya dengan suaranya yang parau.
"Heii...! Siapa kamu?! Mau apa kau kemari?!"
Dengan memberanikan diri, saya pun bertanya, "Ibu, apa ibu kenal
dengan seorang anak bernama Eric yang dulu tinggal di sini?"
Ia menjawab, "Kalau kamu ibunya, kamu sungguh perempuan terkutuk!
Tahukah kamu, 10 tahun yang lalu sejak kamu meninggalkannya di sini,
Eric terus menunggu ibunya dan memanggil, 'Mommy..., mommy!' Karena
tidak tega, saya terkadang memberinya makan dan mengajaknya tinggal
Bersama saya. Walaupun saya orang miskin dan hanya bekerja sebagai
pemulung sampah, namun saya tidak akan meninggalkan anak saya seperti
itu! Tiga bulan yang lalu Eric meninggalkan secarik kertas ini. Ia
belajar menulis setiap hari selama bertahun-tahun hanya untuk menulis
ini untukmu..."
Saya pun membaca tulisan di kertas itu...
"Mommy, mengapa Mommy tidak pernah kembali lagi...? Mommy marah sama
Eric, ya? Mom, biarlah Eric yang pergi saja, tapi Mommy harus berjanji
kalau Mommy tidak akan marah lagi sama Eric. Bye, Mom..."
Saya menjerit histeris membaca surat itu. "Bu, tolong katakan...
katakan di mana ia sekarang? Saya berjanji akan meyayanginya sekarang!
Saya tidak akan meninggalkannya lagi, Bu! Tolong katakan..!!"
Brad memeluk tubuh saya yang bergetar keras.
"Nyonya, semua sudah terlambat. Sehari sebelum nyonya datang, Eric
telah meninggal dunia.. Ia meninggal di belakang gubuk ini. Tubuhnya
sangat kurus, ia sangat lemah. Hanya demi menunggumu ia rela bertahan
di belakang gubuk ini tanpa ia berani masuk ke dalamnya. Ia takut
apabila Mommy-nya datang, Mommy-nya akan pergi lagi bila melihatnya
ada di dalam sana ... Ia hanya berharap dapat melihat Mommy-nya dari
belakang gubuk ini... Meskipun hujan deras, dengan kondisinya yang
lemah ia terus bersikeras menunggu Nyonya di sana .
Saya kemudian pingsan dan tidak ingat apa-apa lagi.

(kisah nyata di irlandia utara)


Pesan : Yang dapat saya sampaikan dari cerita ini adalah bahwa kita hidup haruslah bersyukur. Bagaimana pun juga, kita hidup masih lebih baik apabila dibandingkan dengan orang yang ada di dalam cerita ini. 


Tidak semua orang memiliki orang tua yang baik, seperti yang terdapat dalam cerita tadi, anak tadi memiliki orang tua yang seperti itu, oleh karena itu kita yang masih memiliki orang tua yang lengkap dan baik alangkah baiknya jika kita bisa berbakti pada kedua oang tua kita.


Selain itu, tidak ada segala sesuatu yang terjadi kebetulan. Anak itu bisa seperti itu pastilah akrena dulu ia tidak berbakti pada orang tuanya. Oleh karena itu, berbaktila kepada orang tua sehingga kita tidak akan menerima buah karma yang seperti itu. 

Read more...

Sunday, 27 February 2011

Kemarahan bukanlah jalan segalanya

Di sebuah sudut kota, hiduplah seorang pemuda yang tinggal bersama ibunya. Ayahnya adalah seorang pembicara yang hebat. Anak ini hidup dalam kemewahan dan kesenangan. Setiap harinya, ia hanya pergi hang out bersama teman-temannya saja.

Sampai suatu ketika, Ayahnya akan melakukan talk show di kota tempat dia tinggal. Ayahnya menelpon anaknya ini untuk membawa mobilnya ke bengkel dan sampai di tempat talk show ayahyna pada pukul 5 sore. Ayahnya pun berpesan pada anaknya untuk jangan sampai telat. 

Anaknya ini pun bergegas membawa mobilnya ke bengkel. Saat menunggu mobilnya selesai, tepat di sebelah bengkel itu ada sebuah mall. Ia langsung ke mall itu dengan tujuan sambil menunggu mobilnya selesai. dia menuju ke bioskop. Saat di bioskop, ia melihat sebuha film yang sangat bagus dan ingin segera menontonnya. 

Dia pun menikmati film itu hingga selesai. Seusai menonton, alangkah terkejutnya ia melihat jam sudah menunjukan pukul 5 sore, ia bergegas ke bengkel dan menuju ke tempat ayahnya. Sesampainya di tempat ayahnya, jam sudah menunjukan pukul 6 sore dan ia melihat ayahnya sudah mencarinya sejak tadi. 

Lalu ayahnya menanyakan padanya kenapa ia bisa telat. Lalu sang pemuda menjawab kalau tadi di bengkel agak sedikit lama. Namun, sang pemuda tidak tahu kalau yahnya sudah menelpon ke bengkel sejak tadi. Lalu ayahnya bilang kepada anaknya, bagus yah ayah sepertinya tidak pernah mengajarimu untuk berbohong. Sepertinya selama ini yah salah mendidik kamu. Lalu sang anak pun sangat takut dimarahi oleh ayahnya. 

Lalu sang ayah bilang baiklah ayah akan pulang ke rumah dengan jalan kaki dan kau mengikuti ayah dari belakang dengan mobil sebagai hukuman karena ayah telah gagal mendidikmu. Selama 6 jam, sang anak melihat ay;ahnya yang bersusah payah berjalan kaki.

Lalu sang anak merenung, "Ayahku sangatlah hebat. Seandainya tadi ia memarahiku, mungkin aku akan dendam pada ayaku sendiri dan akan terus mengulangi kesalahan yang sama. Namun, hari ini ayah telah memberiku suatu pelajaran yang sangat berharga."

Pesan : Kemarahan bukanlah jalan untuk mnyelesaikan segala perkara. Dengan kemarahan, semua masalah tidak akan selesai. Namun dengan pikiran yang bijaksana lah maka segala masalah dapat terselesaikan dengan mudah. 

Saat kita dibenci atau dikasari oleh orang lain, janganlah membalasnya dengan kebencian dan kekasaran, namun balaslah dengan penuh cinta kasih dan kelembutan. 



Read more...

Kisah Seorang Ibu yang Buta

Suatu ketika, di suatu desa hiduplah seorang anak gadis yang sangat cantik. Gadis ini merupakan gadis tercantik di desanya. Dengan kecantikannya, dia bisa mendapatkan apa saja yang ia mau. Namun, ada sesuatu hal yang ia merasa kurang dari teman-temannya, yaitu ia memiliki seorang ibu yang buta dengan bekas jahitan yang berantakan di sekitar matanya membuat ibunya itu tampak sangat seram. 

Gadis itu merasa sangat malu memiliki ibu seperti itu. Bahkan gadis itu tidak mau mengakui ibunya itu sebagai ibunya. Ibunya merasa sangat sedih sekali. Namun, ibunya itu tahu akan kekurangannya dan dia pun juga tidak mau teralu dekat dengan anaknya saat berada di luar.

Sampai suatu ketika, ibunya berjualan di kantin sekolah tempat anaknya sekolah. Namun, gadis itu tetap tidak mau mengakui ibu itu sebagai ibunya. Gadis itu sampai bertekad kalau tidak mau mengakui dan bertemu dengan ibunya lagi. Benar saja, tekadnya itu terkabul. dia mendapat beasiswa untuk sekolah ke Singapura dan akan berpisah jauh dengan ibunya. 

gadis itu meneruskan pendidikannya di Singapura dan menikah dengan salah seorang lelaki di Singapura. Gadis itu sangatlah beruntung karena mendapatkan seorang suami yang sangat kaya. Hidup gadis itu kini sangatlah berkecukupan. Sampai akhirnya, gadis itu mendapat dua orang anak dari perkawinannya itu. 

Gadis itu hidup dengan sangat amat bahagia sampai suatu ketika ibunya mengunjunginya ke Singapura. Gadis itu sungguh sangat terkejut. Anak-anaknya pun langsung menjerit melihat wajah neneknya. Dengan spontan, gasi itu berkata kepada ibunya, "Wahai ibu tua, bisakah kau pergi jauh-jauh dari rumahku ini, Kau sudah menakuti kedua anakku." Dengan langkah tergopoh-gopoh berlinang air mata, sang ibu pergi dan kembali pulang ke kampungnya. 

Sampai suatu ketika, gadis itu pulang ke kampungnya dan mendengar berita bahwa ibunya telah meninggal dunia. Gadis itu pun menerima sepucuk surat dari ibunya yang bertuliskan, 

"Anakku maafkan ibu karena ibu telah membuatmu malu di hadapan teman-temanmu, maafkan ibu juga karena ibu tidak bisa membuatmu bangga, maafkan ibu telah menakut-nakuti cucuku sendiri saat aku berkunjung ke rumahmu di Singapura. Ibu sudah bersusah payah mengumpulkan uang selama 2 tahun demi pergi ke Singapura dan akhirnya ibu bisa pergi ke Singapura. Tapi kedatangan ibu sepertinya sia-sia. Dan ada satu hal yang kamu perlu tahu, dulu sewaktu kau masih kecil kau mengalami sebuah kecelakaan yang membuatmu buta dan ibu tidak tega melihatmu hidup dalam penderitaan maka ibu memberikan mataku untukmu agar kau bisa melihat indahnya dunia melalui mataku ini. 

Gadis itu dengan berlinang air mata merasa sangat menyesal, namun tak ada lagi yang bisa dilakukan. 

Pesan : Sayangilah ibu kita dan terimalah segala kekurangan yang dimiliki oleh ibu kita. Kita layaknya bersyukur memiliki seorang ibu yang telah rela bersusah payah melahirkan kita hingga bisa ada di dunia ini. Ingatlah dibalik 1000 kekurangan ibu kita, tersimpan sejuta kebajikan dan kasih sayang yang ia berikan kepada kita sejak kita lahir hingga sekarang


 

Read more...

Kisah Seorang Saudagar

Dahulu kala, di sebuah kota hiduplah seorang saudagar yang amat kaya. dia punya usaha yang sangat amat besar. Jabatannya pun tidak perlu diragukan lagi. Hidupnya selalu berkecukupan, bahkiksu an lebih dari cukup. Tetapi, saudagar ini memiliki sifat yang amat buruk. Saudagar ini amat sayang sekali dengan kedudukannya bahkan rela melakukan apa saja untuk mempertahankan kedudukannya.

Saudagar ini ternyata memiliki seorang guru spiritual. Seorang bhikkhu yang sangat amat hebat dengan 5x masa vassa. Bhikkhu itulah yang selalu memberinya nasihat, saran, dan petunjuk bila ia sedang terjatuh dan mengalami masalah. Gurunya ini sebenarnya tahu akan sifat buruk dari muridnya itu. Namun, sang guru tidak pernah berhasil mengubah sifat buruk saudagar tersebut. 

Sampai suatu ketika, datanglah pembeli yang amat sangat kaya dari negeri seberang. Pembeli ini mendatangi toko milik saudagar kaya tersebut. Pembeli ini bermaksud membeli 3 kantong gula yang 1 kantongnya harganya 8 ribu. Saudagar pun memberi tahu bahwa harganya 24 ribu. Namun, sang pembeli mengelak bahwa harganya 23 ribu. Lalu, sang saudagar bertanya pada pembelinya, "darimana harga 23 ribu itu?" lalu sang pembeli menjawab, "Iya. 8x3=23. Oleh karena itu harga seluruhnya 23 ribu. Lalu si saudagar berkata, "dasar kau bodoh. 8x3 itu 24. Kau tidak lulus sekolah yah?" Lalu sang pembeli menjawab, "Hei jangan asal bicara kau, aku ini lulusan luar negri. Kau yang tidak bisa menghitung. Baiklah begini saja, kita taruhan kalau aku salah maka kau boleh membunuhku, tapi kalau kau yang salah, kau harus melepaskan kedudukanmu."

Lalu dengan langkah percaya diri, sang saudagar pergi ke gurunya yang bijaksana. Lalu menanyakan akan soal itu ke gurunya. Sang saudagar pun bertanya, "Guru 8x3 sama dengan berapa?" Sang guru pun berpikir sejenak lalu menjawab, "8x3 itu sama dengan 23." Akhirnya dengan kecewa sang saudagar pergi dan melepas kedudukannya. 

Sesampainya di rumah, sang saudagar berpikir kalau aku salah telah berguru pada guru yang bodoh. Besok aku akan meninggalkannya. Keesokan harinya, dia pergi ke tempat gurunya dan pamit berkata bahwa ia ada urusan keluarga. Lalu sang guru menjawab, Baik, jangan lama-lama setelah itu cepat balik kemari dan jangan lupa kalau nanti hujan jangan berteduh di bawah pohon." Lalu sang murid berkata, baik guru aku pamit." Lalu sang guru menyampaikan pesan terakhirnya, "Oh iya, satu lagi jangan sampai kau membunuh makhluk apapun."

Lalu sang saudagar pun pergi. Di tengah perjalanan hujan deras turun. Ia hendak berteduh di bawah pohon. Namun, ia teringat akan pesan gurunya. Lalu ia berpikir, "Mungkin baiknya aku ikuti nasihatnya saja." Dan benar saja, setelah dia meninggalkan pohon itu, tiba-tiba petir menyambar pohon itu dan pohon itu tumbang. Dia amat bersyukur karena menuruti kata-kata gurunya.

Setelah itu, dia melanjutkan perjalanan. Sesampainya di rumah, ia langsung membuka kunci pintu dengan pedang yang ia bawa. Lalu ia pun bergegas menuju ke kamarnya dengan tujuan ingin menengok istrinya. Kamarnya sungguh gelap. Saat dia meraba ranjang, alangkah kagetnya dia. Dia meraba ada 3 orang yang tidur di ranjangnya. Dia pun emosi dan segera mengeluarkan pedangnya. Namun, ia teringat pesan gurunya untuk tidak membunuh. dia pun menghentikan niatnya. Ketika ia membuka selimut, alangkah kagetnya ia menemukan adik iparnya yang tidur disana. Ia bersyukur tidak membunuh adik iparnya sendiri.

Keesokan harinya, dengan segera ia kembali ke tempat gurunya. Dia bertanya pada gurunya, "guru, kenapa anda bisa tahu kalau saya akan tertimpah pohon jika saya berteduh di bawah pohon dan anda juga tahu kalau saya akan membunuh?" Lalu gurunya berkata, "saya tidak tahu. Saya hanya melihat udara sangat panas saat kau pergi, pasti setelah itu akan terjadi huja ndan biasanya saat hujan maka akan ada petir. Lalu soal membunuh, saya melihat saat kau pergi kau penuh dengan luapan emosi dan membawa sebuah pedang. oleh karena itu aku mnyarankanmu untuk tidak membunuh.

Pesan : Berpikirlah dahulu sebelum anda bertindak. Oleh karena itu, maka anda akan terbebas dari segala marabahaya. Selain itu, guru dalam cerita itu adalah bagaikan orang tua kita yang selalu menaasihati kita untuk melakukan yang terbaik meskipun belum tentu kita suka dengan cara mereka namun mereka memiliki maksud tertentu di balik semua pesannya. Oleh karena itu janganlah suka melawan dan membantah kata-kata orang tua. 



Read more...

Thursday, 27 January 2011

Dewi Keberuntungan dan Dewi Kesialan

Tatkala di sebuah desa. hiduplah seorang pemuda yang tinggal di sebuah gubuk di pinggir desa. Dia nmerasa kesepian. Selain itu, setiap harinya ia hanya hidup dengan mengumpulkan kayu bakar dan menjualnya ke pasar. Penghasilan dari ia mengumpulkan kayu bakar hanya cukup untuk membeli makan sehari dua kali. Oleh karena itu, ia mencoba menanam jagung dan menjualnya ke pasar.

Namun, penghasilan dari menjual jagung itu pun juga tidak terlalu besar. Hanya cukup untuk makan dan hidup sangat sederhana saja. Pemuda ini pun merasa cukup menderita karena hidupnya sungguh sulit.

Sampai suatu ketika, di suatu malam datanglah seorang wanita cantik dengan busana yang sangat indah. Pemuda itu pun terkesima melihat wanita cantik itu. Langsung pemuda itu bertanya kepada wanita cantik itu, "Hai wanita cantik, siapakah gerangan dirimu, mengapa di malam gelap ini kau sendirian dan ada di depan rumahku?" Lalu si wanita itu pun menjawab demikian, "Aku adalah dewi keberuntungan. Aku akan membawa keberuntungan dalam hidupmu. Apakah kau akan mengijinkanku masuk ke dalam?" Lalu tanpa berpikir panjang si pemuda itu pun mengijinkan wanita cantik itu masuk ke rumahnya.

Hari demi hari pun berlalu, hidup si pemuda pun mulai berubah. Dia menjadi orang yang paling beruntung. Hasil pengumpulan kayunya dijual dengan harga yang sangat tinggi sehingga pemuda tersebut bisa membeli apa saja yang ia mau. Hidupnya pun mulai berubah. Namun, lama kelamaan ia pun menjadi sombong. ia menjadi pelit dan tidak lagi ingin bekerja. Setiap harinya, ia hanya menikmati apa yang sudah ia dapat.

Sampai suatu malam, pemuda tersebut mendengar suara pintunya diketuk. Lalu pemuda itu pun bergegas keluar, dan alangkah terkejutnya pemuda tersebut melihat seorang nenek tua yang sudah sangat buruk rupa dan bajunya sangat kumal dan jelek. Lalu si pemuda tersebut pun bertanya, "Wahai nenek tua, ada apa gerangan nenek datang ke rumah saya malam-malam begini?" Lalu nenek tua tersebut pun menjawab, "Aku adalah dewi kesialan. Aku akan membawa: kesialan dalam hidupmu. Ijinkanlah aku masuk ke dalam rumahmu." tanpa berkata apa-apa lagi, pemuda tersebut langsung secepat mungkin menutup pintu. Namun, seketika wanita cantik yang ada di dalam rumah pemuda tersebut keluar dan berkata, "Wahai pemuda, Bukakanlah pintu untuk nenek tua tersebut. Dia adalah saudara kembarku. Kami adalah satu paket. Dimana ada aku pasti harus ada saudara kembarku. Kami tidak bisa terpisah. dan kamu pun harus menanggung akibat karena selama ini kamu hanya menikmati keberuntungan yang kau dapat dariku tanpa mau berusaha untuk mendapatkan keberuntungan itu lagi. dan inilah hukuman bagimu karena kamu sudah pelit dan malas."

Semenjak kedatangan nenek tua itu dirumah pemuda tersebut, hidup pemuda itu pun kembali seperti biasa lagi. Ia harus berjuang seperti biasa lagi dan tidak bisa menikmati kebahagiannya lagi.

Pesan : Keberuntungan dan kesialan adalah satu paket, sehingga kita tidak bisa hanya ingin keberuntungan terus. Yang namanya keberuntungan atau kesialan itu sendiri tidak berasal dari faktor-faktor apapun seperti orang, tempat atau apapun melainkan berasal dari pikiran kita sendiri. 


Keberuntungan dan kebahagiaan itu bisa ada dimana saja, tinggal bagaimana kita memaknai semua itu. 


Selain itu, saat kita sedang menderita, ingatlah semua itu akan berlalu dan akan berganti kebahagiaan sehingga janganlah terlalu terpuruk atas penderitaan itu. Sedangkan saat kita bahagia, ingatlah kembali semua itu akan berlalu dan akan berganti kembali dengan penderitaan. Oleh karena itu, janganlah malas dan hanya menikmati kebahagiaan itu saja, namun berusahalah untuk tetap dapat mempertahankan kebahagiaan itu karena semua di dunia itu tidak kekal dan dunia pasti berputar. 


Selain itu, janganlah merasa sombong dengan segala kelebihan kita karena Di Atas Langit Masih Ada Langit, Di atas kita masih ada orang yang jauh lebih hebat dari kita. Sedangkan jangan merasa malu atau minder dengan segala kekurangan kita karena Di Bawah Tanah Masih Ada Tanah, Di bawah kita masih banyak orang yang jauh lebih menderita dari kita. Oleh karena itu bersyukurlah dengan segala yang sudah kita punya.






Read more...

Tuesday, 18 January 2011

Pangeran yang Tidak Pernah Bahagia

Tatkala, di suatu negeri, terdapatlah sebuah kerajaan yang adil dan makmur. Kerajaan ini dipimpin oleh seorang raja yang bijaksana beserta dengan ratunya. Suatu ketika, anak dari sang raja akan lahir. Sang raja sangat senang begitu mendengar kabar bahwa calon pewaris tahtanya akan segera lahir. Sampai akhirnya, waktu kelahiran sang pangeran pun tiba. Sang raja dan ratu sangat senang dengan kelahiran sang pangeran tersebut.

Waktu pun terus berjalan hingga sang pangeran pun mulai tumbuh. Sang pangeran hidup dalam penuh kemewahan dan kemanjaan. Pangeran selalu dimanja dengan berbagai kesenangan, kebahagiaan, dan semua permintaannya selalu terpenuhi. Banyak orang yang sangat iri dan ingin sekali menjadi seperti pangeran. Namun, sang pangeran tersebut tidak pernah menemukan kebahagiaannya.

Sampai suatu ketika, sang pangeran memutuskan untuk dibuatkan sebuah istana untuk dia tinggal sendiri karena dia akan merasa lebih nyaman bila tinggal sendiri. Tidak lama setelah diajukkannya permintaan tersebut, istana tersebut langsung jadi dan pangeran tinggal sendiri di dalamnya. Awalnya, Sang pangeran merasa sangat senang sekali dan seakan menemukan surganya. Namun, seiring berjalannya waktu, sang pangeran merasa kesepian dan mulai menderita dan kembali kehilangan kebahagiaannya. Sang pangeran pun memutuskan untuk kembali ke istananya.

Saat kembali ke istananya, sang pangeran kembali bahagia karena dia rindu akan suasana ini. Namun, tak berapa lama dia kembali jenuh dengan keadaan ini dan ingin kembali ke istannya yang sepi. Sang pangeran pun kembali ke istananya yang sepi dan tak lama dia pun jenuh kembali. Begitulah seterusnya sampai setahun berlalu.

Sang pangeran memasuki masa remaja dan akan segera menentukan seorang wanita untuk dijadikan permaisuri. Pada awalnya, sang pangeran meerasa senang karena dia akan menemukan seorang permaisuri. sampai akhirnya, ia pun menemukan permaisurinya dan menikahinya. Pada awalnya, hubungan mereka terasa sangat menyenangkan. Namun, Setelah berjalan beberapa tahun, mereka tampak jenuh dan hubungan mereka mulai retak. sang pangeran pun kembali kehilangan kebahgiannya.

Waktu pun kembali berjalan, dan sang pangeran yang hidup dalam kemewahan dan kemanjaan, kini harus meenggantikan posisi ayahnya sebagai raja. Pada awalnya, ia merasa sangat senang karena dia akan memimpin sebuah kerajaan. Namun, setelah beberapa memimpin, dia merasa pusing dengan urusan negara dan semua menjadi terbengkalai. Dia menjadi raja yang sangat egois karena selama ini ia selalu hidup dalam kemanjaan.

dan kini, ia telah mendapatkan seorang putra. Awalnya, dia sangat senang sekali melihat buah hatinya yang lucu. Namun, semakin lama melihat putranya yasng semakin nakal, dia menjadi sangat pusing dan kembali menderita.

Sampai akhirnya, dia menjadi tua dan akan turun tahta. Dia bahagia karena tidak perlu lagi mengurus negara yang ribet. namun, kebahagiaan itu kembali tak berlangsung lama karena dia menjadi sakit-sakitan. Di akhir hidupnya, ia melihat seorang anak pengemis yang cacat, namun di wajah mereka tampak senyum yang berbibar-binar.

Sesaat, sang pangeran tersadar bahwa selama ini ia tidak pernah bersyukur dengan apa yang telah dia punya bila dibandingkan pengemis itu. Namun setelah itu sang pangeran langsung mnghembusakn nafas terakhirnya.

Pesan : Syukurilah apa yang sudah kau punyai sekarang, karena masih banyak orang yang jauh lebih sulit dibaandingkan anda. Dan jangan sombong dengan apa yang kita punya karena itu hanya sementara dan masih banyak orang yang jauh lebih hebat dibanding kita. Oleh karena itu, hiduplah dengan seimbang. 


Selain itu, kebahagiaan itu tidak berasal dari tempat dimana kita tinggal, tempat dimana kita berada, hari, tanggal, ataupun yang lainnya. Melainkan kebahagiaan itu berasal dari dalam diri kita sendiri yaitu dengan cara mensyukuri segala sesuatunya. Ingat lah "Dimana pun , kapan pun kamu berada, dan bagaimanapun situasinya, di situ lah kita bahagia. 




Read more...

Saturday, 15 January 2011

Maafkan Aku Ayah

Cerita ini adalah kisah nyata dari seorang mahasiswa di Tionghua yang bernama Hsiau-Fei. Hsiau fei adalah seorang mahasiswa yang sebentar lagi akan diwisuda. Dia sangat mendambakan akan hadiah wisuda dari ayahnya, seorang pengusaha kaya yang sangat menyayanginya sebagai anak satu-satunya. Hsiau-fei selama berhari-hari telah membayangkan akan mengendarai mobil BMW idamannya sambil bersenang-senang dengan temannya.

Saat yang dinantikan pun tiba, yang mana setelah diwisuda, dengan langkah penuh keyakinan Hsiau-Fei melangkah menemui ayahnya yang tersenyum sambil berlinang air mata menyampaikan betapa dia kagum akan anak satu-satunya dan sungguh dia mencintainya. Ayahnya kemudian mengeluarkan sebuah kado yang dibungkus rapi, dan sungguh hal ini membuat Hsiau-Fei terpukul karena bukanlah kunci mobil BMW melainkan sebuah kitab Buddha Vacana yang terjilid rai bertuliskan emas nama Hsiau-Fei disampul depannya. Hancur sekali hati Hsiau-Fei. Dia membanting kitab tersebut sambil berteriak, "Apakah ini cara ayah mencintai saya? Padahal dengan uang ayah yang banyak, tidaklah sulkit untuk membelikan hadiah yang memang telah ayah ketahui sudah lama saya idamkan." Kemudian, Hsiau-Fei tanpa meilhat reaksi ayahnya lagi, berlari kecang meninggalkannya dan bersumpah tidak akan menemuinya lagi.

Hari, bulan,dan tahun pun berganti. Hsiau-Fei yang telah pindah di kota lain akhirnya berhasil menjadi seorang pengusaha sukses karena bermodalkan otaknya yang cemerlang. Selain memiliki mobil dan rumah yang mewah, dia juga telah berkeluarga dan mmiliki 3 anak. Sementara ayahnya sudah pensiun dan semakin tua serta tinggal sendirian. Ayahnya selalu menanti kedatangan Hsiau-Fei sejak hari wisuda tersebut, dengan satu harapan hanya untuk menyampaikan betapa cintanya dia kepada Hsiau-Fei. Hsiau-Fei pun juga terkadang rindu kepada ayahnya. Namun, apabila ia mengingat kejadian hari wisuda tesebut, dia pun menjadi marah kembali dan merasa sakit hati atas hadiah kitab dari ayahnya.

Sampai suatu hari, datanglah telegram dari tetangga ayahnya yang memberitahukan bahwa ayahnya telah meninggal dunia, dan sebelum meninggal dia telah meninggalkan surat wasiat kepada Hsiau-Fei dimana semua hartanya akan diwariskan kepadanya. Akhirnya Hsiau-Fei pulang untuk mengurus harta peninggalan ayahnya.

Memasuki halaman rumahnya, timbullah rasa penyesalan yang menyebabkannya sedih sekali memikirkan sikap ketidaksabarannya, khususnya saat wisuda. Hsiau-Fei merasa sangat menyesal telah menolak ayahnya. Dengan langkah berat dia memasuki rumah dan satu per satu perabot diperhatikannya yang mengingatkannya akan akan semua kenangan indah tinggal bersama ayahnya. Dengan kunci wasiat yang diterimanya, dia membuka brankas besi ayahnya dan menemukan kitab Buddha Vacana dengan ukiran emas namanya, hadiah dari wisuda.

Dia mulai membuka halaman kitab tersebut dan menemukan tulisan ayahnya di halaman depan. "dengan segala kejahatan yang telah kamu lakukan selama hidupmu, tetapi kamu tahu memberikan yang terbaik untuk anakmu, sungguh para buddha dan bodhisatva akan terguncang dengan perbuatanmu." Tanpa sengaja, tiba-tiba dari sampul kitab tersebut jatuh sebuah kunci mobil BMW dan kwitansi pembelian mobil yang tanggalnya persis satu bulan sebelum tanggal wisuda Hsiau-Fei.

Hsiau-Fei terpaku tanpa bisa bersuara. dengan sisa tenaga yang masih ada, Hsiau-Fei segera berlari ke garasi dan menemukan sebuah mobil BMW yang telah berlapiskan debu tetapi masih jelas seklai mobil itu belum pernah disentuh sama sekali karena jok mobilnya masih terbungkus plastik. Di depan kemudi terpampang foto ayahnya yang tersenyum bangga. Tiba-tiba lemaslah seluruh tubuhnya, dan air matanya tanpa terasa terus mengalir tanpa dapat ditahannya. Suatu penyesalan mendalam atas ketidaksabarannya sendiri. Suatu penyesalan tak mungkin berakhir.

Pesan : Janganlah terburu-buru dalam mengambil suatu keputusan, karena kita tidak dapat memutar waktu. Oleh karena itu, pikirkan matang-matang suatu keputusan yang akan kita ambil agar kelak kita tidak menyesal seumur hidup.


Selain itu, bersyukurlah atas segala sesuatu karena setiap hal atau apapun pasti ada hikmah yang dapat kita syukuri walapun itu buruk sekalipun. Dan selalulah berpuas diri dan bersyukur dengan apapun yang kita punya. karena masih banyak orang yang jauh lebih sulit daripada kita. 


Satu lagi, berbaktilah pada orang tua sebelum mereka meninggalkan kita karena kita tidak pernah tahu kapan orang tua kita akan meninggal dan sebelum mereka meninggal, alangkah baiknya jika kita dapat membahagiakan mereka. 




Read more...